Polisi berjaga pasca serangakaian teror bom dan penembakan di Paris, Perancis. (foto: www.setkab.go.

Polisi berjaga pasca serangakaian teror bom dan penembakan di Paris, Perancis. (foto: www.setkab.go.id)

Tanpa keraguan, apa yang terjadi di Paris adalah sebuah tragedi. 129 orang tewas, sementara ratusan lain terluka dan selamat dari serangan mematikan Jumat lalu di sejumlah tempat di ibukota Perancis itu. Perancis memberlakukan tiga hari berkabung atas serangan yang diklaim dilakukan oleh ISIS ini.


Aksi duka langsung merebak di penjuru dunia -- ada yang mengganti warna ikon kota dengan merah-putih-biru sebagai lambang bendera Perancis sampai menggelar doa bersama. Di Facebook, banyak yang menambahkan filter warna bendera Perancis di gambar profil mereka. Twitter mempopulerkan tagar untuk menemukan orang yang bersedia menyediakan tempat tinggal sementara. Facebook juga mengaktifkan tombol cek keselamatan untuk menandai mereka yang lolos dari serangan tersebut.


Tapi aksi simpati lantas bergeser jadi aksi saling membandingkan. Tudingan terutama diarahkan ke Facebook yang dianggap tidak berlaku adil. Misalnya karena Facebook tidak membuat tombol cek keselamatan untuk Beirut. Sehari sebelum serangan di Perancis, 43 orang tewas di Beirut akibat ledakan bom. Facebook juga dikritik lantaran membuat filter warna ala bendera Perancis, tapi tak membuat hal serupa untuk Palestina, Irak, atau negara lainnya yang juga jadi korban aksi terorisme.


Perdebatan ini seperti menggeser persoalan. Filter warna dan tombol cek keselamatan adalah kreasi berbasis teknologi, sementara persoalan utama di sini adalah kemanusiaan. Terlepas di tanah mana pun itu aksi kekerasan terjadi. Kita tidak perlu dan tidak semestinya membanding-bandingkan tragedi di Perancis, di Irak, di Suriah, di Palestina atau di mana pun. Karena jika kita membandingkan, maka kita rawan terjerumus pada jumlah korban. Seolah-olah yang korbannya lebih banyak itu berhak dapat perhatian lebih. Apakah lantas tragedi dengan jumlah korban kecil itu boleh diabaikan? Tentu tidak.


Kita mesti mengembalikan persoalan pada tempatnya. Ini adalah soal kemanusiaan – di mana pun, kapan pun, berapa pun jumlah korbannya dan apa pun agamanya. Ketika ISIS mengklaim bertanggung jawab, maka ini yang yang harus jadi sorotan. Dunia harus bergandengan tangan mencegah ISIS memperdaya serta menjadikan kita sebagai korban.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!