KTP. (Situs Kemendagri)

KTP. (Situs Kemendagri)

Mulai kemarin pemerintah kota Balikpapan, Kalimantan Timur menerbitkan kartu tanda penduduk (KTP) untuk anak. Kartu identitas bagi anak itu diberikan untuk mereka yang berusia di bawah 17 tahun. Kata dinas kependudukan setempat, cukup membawa foto copi KTP orang tua dan kartu keluarga serta foto ke kecamatan domisili, maka sang buah hati segera mendapat kartu identitas. Layanan ini oleh pemkot tak dipungut biaya alias gratis.

Salah satu alasan pemkot Balikpapan membuat KTP anak untuk mengantisipasi anak jadi korban kecelakaan atau kejahatan. Dengan adanya KTP, identitas dan rumah si anak bisa segera diketahui. Alasan yang masuk akal, terutama di kota-kota besar yang mobilitas dan tingkat kejahatannya tinggi. 

Alasan lain dari bagian program kota layak anak di Balikpapan itu adalah diskon bagi anak saat membeli sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan misalnya buku. Dengan menunjukkan KTP ini, anak bisa mendapatkan diskon. Pemkot kini masih mengupayakan kerjasama dengan perusahaan yang peduli pada tumbuh kembangnya anak. 

KTP anak menjadi salah satu program yang akan diluncurkan Kementerian Dalam Negeri. Rencananya program ini mulai tahun depan akan diberlakukan di 50 kabupaten/kota. Keseluruhan daerah yang dipilih itu adalah yang memiliki cakupan kepemilikan akta lebih dari 77 persen. Sedangkan daerah lain baru akan diberlakukan pada 2017.

Masalahnya, program dengan jangkaun nasional dikhawatirkan malah berantakan. Lihat misalnya program nasional KTP elektronik yang tak jelas juntrungannya. Awal bulan lalu sampai Gubernur Ahok menyindir kemendagri yang tak juga mampu membereskan e-KTP. Ahok gerah lantaran ada 1,4 juta blangko e-KTP warga Jakarta tak jelas nasibnya di Kemendagri. Bayangkan, e-KTP yang beranggaran lebih 6 triliun rupiah saja berantakan. Apalagi ini KTP anak yang belum jelas biayanya.

Meski begitu, inisiatif daerah semacam Balikpapan itu patut diperluas. Demi melindungi anak. Demi memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang menunjang pertumbuhan mereka dengan baik. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!