g20, Susi Pudjiastuti, kapal, ikan

Sejak menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, nama Susi Pudjiastuti terus bersinar. Banyak ide cemerlang dilontarkannya. Mulai dari urusan yang sangat domestik, sampai kebijakan nasional.

Untuk urusan yang pertama, Menteri Susi mengeluarkan aturan agar pegawai KKP masuk pukul 07.00, agar bisa pulang pukul 15.00. Alasannya sederhana, supaya para pegawai kementeriannya tak perlu menghabiskan banyak waktu menghadapi kemacetan Jakarta. Punya waktu cukup banyak dengan keluarga dan ujungnya, produktivitas meningkat. Ini kebijakan internal kementerian.

Di tingkat nasional, ia memulai dengan melakukan moratorium pemberian izin kapal diatas 30 Gross Ton (GT). Alasan Susi memberlakukan moratorium sangat masuk akal. Dari data Kementerian yang ia pimpin, 1 kapal 30 GT bisa menangkap sampai 2000 ton. Kalau kita ambil spesies ikan paling murah untuk konsumsi eksport, Ikan Kembung misalnya, harga per kilo di pasaran bisa mencapai 3 dollar.

Dengan harga itu, 1 kapal bisa menuai sampai 72 miliar rupiah. Sementara kontribusi ke negara, hanya 90 juta rupiah saja. Maka layaklah kebijakan Menteri Susi soal ini kita dukung.

Yang terkini adalah permintaan Susi agar Indonesia keluar dari negara-negara kelompok G20. Alasannya sederhana, gara-gara ikut G20 ekspor hasil perikanan Indonesia dibebani tarif sampai 14 persen. Padahal kalau tidak masuk G20, tak ada tarif yang harus dibayar untuk ekspor alias 0 persen. Usulan ini menurutnya sudah disampaikan kepada Sekretaris Kabinet dan Presiden Jokowi. (Baca: G20 Tak Bawa Manfaat untuk Kelautan Indonesia? Apa Sih G20?)

Dilihat dari sisi ini, usul Susi tampak menjanjikan. Pendapatan Indonesia sebagai pengekspor ikan tak akan tergerus oleh aturan tarif yang lumayan besar. Tapi jangan lupakan sisi potensi pasar yang cukup besar. G20 merupakan kelompok negara-negara yang tak bisa dengan mudah disepelekan. Ia beranggotakan 19 negara dan 1 Uni Eropa yang memiliki pertumbuhan ekonomi terbaik.

Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang masuk kelompok ini. Di Asia, Indonesia berada dalam kelompok ini bersama dengan Cina, India, Jepang, Korea Selatan dan Arab Saudi. G20 tercatat menguasai  80 persen aktivitas perdagangan dunia dan dua pertiga penduduk dunia. Jelas ini potensi pasar yang tak mudah kita elakkan.

Namun kegusaran Menteri Susi juga tak bisa begitu saja diabaikan. Presiden Jokowi seharusnya membaca ini sebagai peringatan untuk memperkuat diplomasi kita. Jangan melulu menjadi penggembira dan anak baik dalam berbagai forum dunia.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!