Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, gubernur Ahok, boikot DPRD DKI Jakarta, pelantikan Ahok

Rapat paripurna DPRD DKI Jumat (14/11) lalu hanya dihadiri 47 dari 106 anggota dewan. Itu pun berlangsung tak lebih dari 10 menit. Agendanya tunggal: pembacaan surat keputusan Menteri Dalam Negeri tentang pengangkatan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai Gubernur DKI. 


Meski diboikot separuh lebih anggota dewan dari Koalisi pro Prabowo, status Ahok sebagai gubernur DKI yang sah tak bakal terpengaruh. Ia hanya perlu menunggu Presiden Jokowi melantiknya.


Ahok, sebagaimana Jokowi, memiliki dukungan rakyat yang besar. Tapi keduanya juga punya musuh yang tidak sedikit. Tapi berbeda dengan gaya Jokowi yang njawani dan kalem, Ahok sebaliknya. Putra Belitung ini dikenal ceplas-ceplos, mungkin sedikit temperamental – terutama ketika melihat hal-hal tak benar terjadi di depannya. Ia acap bicara blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling.


Selain dimusuhi koalisi pro Prabowo, Ahok juga dibenci kelompok Islam politik. Sebut saja di antaranya FPI. Kelompok yang acap dijuluki “preman berjubah” ini sudah berulangkali mendemo Ahok. 


Tapi berbeda dengan para pejabat lain yang mengkeret kalau ditekan FPI, Ahok pantang mundur. Berbagai ancaman tak membuatnya surut langkah.


Ahok, berdarah Tionghoa. Dan Kristen. Ia memimpin ibukota yang multikultural. Dengan penduduk yang sudah sangat kosmopolit. Mereka tak peduli latar belakang primordial gubernurnya, bahkan bangga Indonesia bisa melahirkan pemimpin dari kalangan minoritas. Inilah kosmopolitanisme yang melampaui sekat-sekat tradisional, atau tepatnya, konservatisme.


Jakarta yang terbeban dengan sejuta masalah mulai dari jurang kaya-miskin, kemacetan, banjir dan sebagainya memang butuh seorang pemimpin yang mampu mendobrak seluruh kebuntuan itu. Jakarta, juga Indonesia, tak butuh pemimpin yang hanya mampu mengeksplotasi sentimen primordialisme hanya demi kekuasaan semata. 


Kita butuh gerak maju yang cepat untuk menyusul berbagai ketertinggalan dengan negara-negara  lain. Kompetisi kian ketat dan kita tak perlu disibukkan dengan politik kotor yang hanya mampu meneriakkan jargon kosong tanpa makna. Politik berisik yang hanya hirau dengan kepentingan sempit, apalagi dengan menunggangi sentimen agama, harus ditinggalkan.


Jakarta butuh seorang pemimpin seperti Ahok. Sepanjang dia bersih dari korupsi, Ahok memang tak perlu gentar dengan beragam tekanan, baik dari politisi-politisi DPRD maupun dari milisi sipil yang suka bertindak onar.


Selamat bekerja, Gubernur baru!


Baca juga: Pernyataan Lengkap Menkumham Yasonna Soal Surat Ahok

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!