Mengundang Pahlawan

Di hari yang kita peringati sebagai hari pahlawan ini sepatutnya mereka berkaca pada darah yang pernah ditumpahkan di negeri ini.

Senin, 10 Nov 2014 09:08 WIB

pahlawan

"Segala yang bisa salah, akan salah." Ini kalimat dikenali sebagai Hukum Murphy. Kapten Edward A. Murphy pada tahun kalimat itu lahir, 1949, tengah bekerja di salah satu pangkalan angkatan udara Amerika.

Kaum optimistis akan mengecam atau--paling tidak--tak akan percaya ujaran Murphy. Sebab, bukankah segalanya dapat diperbaiki? Dan pada dasarnya, apa sih yang tak bisa salah sehingga, dalam pengertian ini, segalanya sangat mungkin bisa benar. Lagipula banyak hal benar diketahui dari kesalahan.

Murphy tentu mafhum terhadap bantahan semacam itu. Ia juga akrab dengan relativitas yang, saat itu, belum setengah abad didiskusikan dunia. Ia mengerti juga tak ada yang sempurna, dan tak ada yang mudah seperti kelihatannya.

Maka, Murphy benar bahwa meski hampir segalanya bisa diperbaiki, ongkosnya akan lebih mahal dari yang semula diperkirakan; bahwa bila segalanya bisa menjadi salah sama artinya ada banyak yang sedari mula bisa menjadi baik dan benar.

Suara Murphy pada hari-hari ini menguat. Bukan saja dikutip dalam dialog film Interstellar yang barusan dirilis. Ia harusnya bergema dari satu ruang ke ruang lain dalam berbagai keputusan dan tindak. Utamanya laku politik. Apalagi di dewan perwakilan rakyat.

Ini hari suara itu mestinya dihayati benar oleh anggota parlemen kita. Ketika DPR sebelumnya, dengan sokongan diam-diam pemerintah sebelumnya, mengesahkan undang-undang mengenai susunan dan kedudukan dewan, dugaan kesalahan menjadi mungkin. Lalu kita melihatnya. Mereka terbelah. Bukan tak bisa diperbaiki. Tapi, apakah DPR benar-benar mau menjadi benar atau sekadar capek?

Di hari yang kita peringati sebagai hari pahlawan ini sepatutnya mereka berkaca pada darah yang pernah ditumpahkan di negeri ini. Mereka, para pahlawan itu, memiliki keberanian kehilangan nyawa. Sebab, mereka tahu tak ada yang lebih menakutkan dari kembali hidup dalam kehinaan dijajah. Apa wakil rakyat masih punya muka di depan pusara tak bernama para pahlawan? Orang-orang yang tak ingin memulai segalanya dari kekeliruan. Bahkan sebelum mereka mendengar suara Murphy.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau