asyura, HKBP Filadelfia, Ahmadiyah, Bahai, Lukman Hakim

Semalam di Semarang, peringatan Hari Asyura dilaksanakan di bawah pengawasan ketat. Sekitar satu kilometer dari Gedung Kesenian Jawa Tengah, tempat peringatan berlangsung, ada aparat TNI yang berjaga-jaga. Sementara di Bandung, Asyura dilakukan di dua lokasi yang berbeda, juga dikawal aparat keamanan setempat demi mencegah bentrok dengan kelompok penentang Asyura.

Yang memperingati Hari Asyura adalah Jemaah Syiah. Pada hari itu, mereka berpakaian hitam-hitam serta menyimak kilas balik tragedi Karbala sebagai inti peringatan Asyura. Yang diperingati adalah wafatnya Imam Husein pada 10 Muharram saat memimpin pasukan dari Bani Hasyim melawan 10 balatentara dari Bani Umayyah.

Sebetulnya tak ada yang aneh dari peringatan Asyura ini. Hari ke-10 Muharram ini di Jawa diperingati dengan sebutan Suro. Di hari itu biasanya digelar upacara untuk meminta keselamatan dan membuang kesialan. Masyarakat Pariaman juga mengenal tradisi ini dengan nama Tabuik. Sementara di Yogya, peringatan 10 Muharram diperingati dengan pembuatan jenang.

Di Indonesia, kelompok Syiah adalah minoritas. Dan karena perbedaan itu pula, Syiah banyak mengalami diskriminasi. Kasus Syiah di Sampang yang dipaksa mengungsi sampai sekarang belum rampung juga. Sementara untuk merayakan hari besar seperti Asyura pun mesti dengan rasa was-was. Tahun lalu misalnya, Jemaah Syiah di Bandung harus memindahkan acara peringatan Asyura mereka karena polisi tak mengeluarkan izin.

PR pemerintahan Jokowi-JK soal toleransi beragama masih panjang. Pemerintah berutang rasa aman bagi seluruh warganya untuk bisa beribadah dengan tenang seperti amanah konstitusi. Utang ini tak hanya kepada kelompok Syiah, tapi juga kepada jemaah di GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Ahmadiyah, Baha'i dan lainnya yang masih mengalami diskriminasi. (Baca: Obor Kerukunan Umat Beragama, Bibit Toleransi Antaragama)

Kita menaruh banyak harapan kepada Menteri Agama Lukman Hakim, tapi dia pun bukan super hero yang bisa melakukan semuanya sendirian. Kesadaran bertoleransi harus juga ditumbuhkan dalam diri sendiri. Sekelompok anak muda di Bandung menggelar kampanye "Karena Kita Memang Beda" demi mengingatkan akan jatidiri bangsa ini. Jangan lupa, Provinsi Jawa Barat termasuk daerah paling panas soal kasus-kasus intoleransi. (Baca: JK: Indonesia Negara Paling Hebat untuk Urusan Toleransi Beragama)

Asyura yang masih berlangsung di bawah kawalan polisi adalah penanda kalau rasa aman itu belum betul-betul hadir. Dan ini menjadi tugas semua anak bangsa.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!