jokowi, bahasa, apec, ceo, ahok

Dua hari ini sosok Presiden Joko Widodo menghiasi halaman depan media massa nasional dan internasional. Ia kembali jadi perbincangan hangat banyak orang. Itu setelah ia tampil di ajang APEC, dan menjelaskan banyak hal tentang Indonesia di depan 1,500 CEO atau pemimpin perusahaan dunia.

Sorotan bukan pada isinya yang mengupas peluang berinvestasi di Indonesia. Melainkan karena Jokowi menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris. Ada yang memuji, ada yang mencela.

Ada yang menilai Jokowi memalukan Indonesia karena bicara dalam Bahasa Inggris ala kadarnya. Tidak fasih. Ada yang menganggap Jokowi melanggar Undang-undang yang mewajibkan kepala negara menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam acara resmi kenegaraan. (Baca: Begini Penampilan Presiden Jokowi di APEC CEO Summit)

Tapi tak sedikit yang memuji Jokowi karena yang dihadapi adalah para pebisnis kelas dunia. Jokowi menerapkan falsafah empan papan alias bisa menempatkan diri sesuai lingkungannya. Walaupun bahasa yang digunakan sederhana, namun ia bicara to the point, langsung tanpa basa-basi ala pemimpin lain. Ia menempatkan diri sebagai CEO Indonesia di antara para CEO kelas dunia.

Sistem politik dan budaya yang berkembang Indonesia akhir-akhir ini memang membuat kita sering mengagungkan bungkus atau kulit dan melupakan isi atau substansi. Pencitraan lebih menarik dibanding kerja. Itu yang membuat orang mempersoalkan cara penyampaian Jokowi dibandingkan isinya. Hasil pemilu presiden lalu sepertinya masih membuat pendukung pihak yang kalah terus mencari sasaran tembak pada Jokowi. Apapun alasannya.

Kita teringat di Jakarta, di mana sebagian orang mempersoalkan gaya Basuki Tjahaja Purnama dalam memimpin. Keras, tegas, tanpa basa-basi. Padahal bisa jadi gaya Ahok itu yang pas untuk Jakarta saat ini. Begitu juga gaya dan cara penyampaian Jokowi di forum internasional. (Baca: Ini Surat Ahok Terkait Pembubaran FPI)

Ini buka soal mendukung atau tidak mendukung Jokowi bicara dalam bahasa Inggris dengan logat Jawa. Tapi kita mengingatkan, isi lebih penting dari kemasan. Jokowi sedang bekerja meyakinkan dunia untuk berinvestasi di Indonesia.

Problem yang disinggung Jokowi, tentang perizinan bisnis di Indonesia lambat, infrastruktur yang kurang, problem listrik yang sudah akut, dan lain-lain, itu jauh lebih penting diselesaikan. Lagi pula, kita memang butuh dana besar untuk membiayai semua itu, sementara kantong sedang kempes.

Jadi kenapa ribut soal kemampuan Bahasa Inggris Jokowi?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!