Ari Pepe, makasar, bbm, bentrok, mahasiswa

Seorang bernama Ari Pepe kemarin petang kehilangan nyawa usai terjadi bentrokan antara mahasiswa melawan polisi di Makasar, Sulawesi Selatan. Hingga semalam kepolisian masih menyelidiki penyebab kematian Ari.

Bentrok berawal saat sekitar seratusan mahasiswa yang berunjukrasa menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) berusaha menyerbu kantor gubernur Sulawesi Selatan. Polisi yang berupaya menghalangi dilempari dengan batu yang lantas dibalas dengan tembakan gas air mata. Usai situasi yang tak terkendali itu, korban ditemukan tergeletak di lokasi dengan luka di kepala.

Upaya membawa korban ke rumah sakit tak membuahkan hasil. Nyawanya tak tertolong.

Bentrok dengan polisi rupanya tak cukup. Giliran berikutnya mahasiswa bentrok dengan warga sekitar kampus. Warga yang marah karena mahasiswa memblokir jalan, menyerbu kampus dan membakar empat motor di sana.

Kita tak ingin aksi menyampaikan pendapat berujung bentrokan kekerasan. Kita tak bisa menolerir pernyataan sikap yang disampaikan dengan cara kekerasan. Karena kekerasan bukan solusi, siapapun pelakunya. Baik masyarakat, mahasiswa atau aparat.

Kita juga sulit menerima bila penyampaian aspirasi dilakukan dengan mengganggu orang lain. Ujung-ujungnya benturan kepentingan dan berbuah bentrok. Alih-alih aspirasinya didengar dan didukung, malah nyawa bisa melayang. (Baca: Aksi Tolak BBM Naik di Makassar, Lima Mahasiswa Jadi Tersangka)

Mereka yang menolak penaikan BBM tentu punya hak menyampaikan aspirasinya. Bisa melalui wakil rakyat, bisa pula
melalui kepala daerah. Sampaikan dengan cara yang bermartabat. Rebut simpati warga jangan sampai malah antipati yang diterima.

Cukup sudah kekerasan itu. Cukup sudah satu jiwa melayang. Jangan sampai jatuh lagi korban sia-sia.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!