perempuan, anti kekerasan, Pramoedya Ananta Toer

Kalau Anda seorang perempuan yang sedang berjalan melewati segerombolan laki-laki, seberapa sering Anda mendapat siulan atau dipanggil dengan aneka nama? Kalau satu nama tak mempan, biasanya akan diikuti dengan aneka nama perempuan lainnya. Berharap Anda menengok, lalu mereka akan tertawa kegirangan.

Fenomena ini ditangkap juga dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Bandung. Kampanyenya berjudul "Saya bukan Neng!" ini menyoroti soal street harassment atau pelecehan yang seringkali terjadi di jalanan, menimpa para perempuan. "Neng" adalah sapaan khas untuk perempuan di wilayah Jawa Barat. Di jalanan, perempuan mana pun bisa disapa, disuiti, digoda dengan kata "Neng" oleh laki-laki mana pun.

Kalau Anda merasa risih, itu sudah sewajarnya. Tapi tak banyak yang tahu kalau itu pun termasuk kategori pelecehan. Pelecehan tak melulu berarti raba-raba atau pegang-pegang, ketahuilah kalau ini adalah jenis pelecehan verbal yang sering muncul di jalanan. Di Indonesia, belum ada data persis soal pelecehan jalanan ini. Tapi di Amerika, menurut riset National Street Harassment, ada 65 persen perempuan yang mengalami pelecehan di jalanan. (Baca: Ada 15 Jenis Kekerasan yang Dialami Perempuan di Indonesia)

Ada eksperimen yang dibuat untuk membuktikan ini. Seorang perempuan dengan kaos putih, jaket dan celana panjang diminta berjalan di kota New York. Ada banyak laki-laki yang menyapa, memanggil, siulan, teguran semua bernada menggoda. Eksperimen lantas berlanjut dengan mengikuti perempuan yang sama, kali ini memakai kerudung dan berpakaian tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jumlah pelecehan verbal menurun drastis. Tapi apakah faktor pakaian ini yang jadi penentu?

Pramoedya Ananta Toer berpesan, kita harus adil sejak dalam pikiran. Laki-laki juga mesti menghormati perempuan sejak dalam pikiran. Pakaian tidak semestinya itu jadi penentu kadar penghormatan laki-laki terhadap perempuan. Tak boleh lantas pilih kasih: menghormati perempuan berkerudung, lalu tidak menghormati perempuan tanpa kerudung. Apalagi sampai menyalahkan si perempuan jika menjadi korban pelecehan seksual.

Di hari pertama kampanye hari anti kekerasan terhadap perempuan, mari kita sama-sama mengingatkan diri sendiri. Untuk perempuan, seberapa paham kita paham soal batas-batas pelecehan dan bagaimana cara kita melindungi diri sendiri. Untuk laki-laki, seberapa sering mulut tak sejalan dengan perilaku menghormati perempuan?

Dan untuk negara: seberapa besar komitmen untuk melindungi perempuan dalam segala gerak lakunya?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!