tawuran, sekolah, rumah, pelajar, ahok

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tak mampu menahan kekesalannya saat bicara soal tawuran pelajar yang tak pernah ada selesainya. Ahok mengancam akan mengeluarkan pelajar tersebut dari sekolah. Ia pun menginginkan pelajar yang terlibat kekerasan keluar dari negara ini.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Lasro Marbun tak akan segan-segan memberi sanksi kepada pelajar yang terlibat tawuran. Meski pelajar tersebut berstatus anak pejabat negara. Lasro juga mengancam pelajar yang tawuran tidak diterima di sekolah-sekolah Jakarta.

Tawuran antar pelajar sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban masyarakat. Tak hanya di sekitar sekolah, namun meluas hingga jalan-jalan umum. Tak jarang terjadi pengrusakan fasilitas publik. Sekolah, guru dan masyarakat bingung dan takut melerainya, sampai akhirnya polisi turun tangan.

Tawuran antarpelajar sudah seperti warisan dari angkatan sebelumnya. Perselisihan bisa bertahan puluhan tahun karena terwariskan kepada murid-murid baru atau generasi selanjutnya. Ada banyak bumbu yang membuat warisan ini terus berkelanjutan.

Ada banyak usulan untuk mengurangi tawuran antarpelajar. Mulai dari memindahkan sekolah, hingga memotong mata rantai tradisi tawuran. Yang bisa dilakukan setiap orang di rumah masing-masing adalah menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak di rumah. Keluarga mempunyai peranan penting untuk menanamkan nilai menghargai perbedaan, yang nyata dalam kehidupan dan tidak bisa dihindari.

Sekolah juga harus melakukan upaya untuk memutus tradisi senior yang memanas-manasi yuniornya supaya terlibat tawuran. Tawuran juga dipengaruhi oleh tata ruang kota. Pertumbuhan pembangunan kota yang akhirnya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi seringkali lupa akan kepentingan anak-anak. Kita lupa bahwasanya kita pernah mengalami masa anak-anak.

Perlu dikaji kembali, fasilitas tempat bermain anak-anak saat ini dirasa sudah sangat kurang, khususnya di daerah Ibukota. Tawuran itu bisa jadi berkaitan dengan tak adanya kegiatan fisik yang bisa dilakukan di luar sekolah. Di sekolah pun banyak yang tak menyediakan tempat bermain.

Sistem pendidikan seharusnya ikut mendukung upaya menghapus tawuran. Dulu ada pelajaran budi pekerti, tetapi kurikulum menghilangkannya dengan alasan sudah terintegrasi dengan pelajaran lain. Kenyataannya, nilai-nilai dari budi pekerti itu memang tidak diajarkan, hilang begitu saja.  (Baca: "Gue Suka Tinju daripada Tawuran...")

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!