sepakbola, Persib juara LSI, Viking rusuh, Jak Mania rusuh, kekerasan supporter sepakbola

Masyarakat Indonesia tak bisa dipisahkan dari sepakbola. Jenis olahraga ini memang mampu membius para penggemarnya, termasuk bersikap fanatik terhadap tim yang mereka dukung. Fanatisme ini pada skala tertentu bahkan acap tecermin melalui tindakan irasional para pendukungnya. 


Sepakbola tanpa penonton memang tak akan seru. Ulah para penonton pada setiap pertandingan justru bisa menjadi pertunjukan tersendiri. Bendera, spanduk, kaos, bahkan warna-warni simbol tim juga tak jarang melekat pada tubuh para fans. Di Surabaya kita mengenal Bonek, akronim Bondo Nekad, di Malang ada Arema, di Jakarta para pecinta Persija menamakan dirinya JakMania, sedangkan fans Persib Bandung lebih suka menyebut kelompoknya dengan nama Viking.  


Bagi para fans club ini, tim kesayangan telah menjadi semacam “agama” –siapa pun dilarang menghina karena akibatnya bisa macam-macam.


Para supporter dan tim ibarat ikan dan air. Saling membutuhkan. Kesebelasan apa pun akan sangat terbantu semangatnya kalau dukungan para fans juga besar. Keberadaan fans adalah pemompa semangat bagi para pemain untuk berlomba memenangkan pertandingan. 


Mestinya, dukungan para fans itu berhenti di sini. Yakni memompa semangat masing-masing tim kesayangan bertanding secara sportif dan kalau bisa menampilkan permainan indah.


Tapi tidak. Meski permainan telah selesai, masih sering “pertandingan” yang lain justru dimulai. Tawuran antar-pendukung acap menjadi momok bagi warga.


Peristiwa terbaru terjadi hari Minggu (9/11) kemarin. Perayaan kemenangan Persib Bandung yang menjuarai Liga Super Indonesia 2014 diwarnai aksi kekerasan yang menegangkan. Mobil-mobil plat Jakarta yang memasuki kota Bandung diminta balik oleh polisi. Ini karena tersiar kabar adanya mobil-mobil berplat B yang sudah terlanjur berada di jalanan kota Bandung menjadi sasaran kekerasan massa.


Mungkin aksi itu berhubungan dengan peristiwa sebelumnya di Jakarta. Ketika rombongan bus yang membawa para anggota Viking melintasi tol lingkar luar Jakarta, mereka dihadang sekelompok orang dan diserang. Rombongan ini sebetulnya tak mampir Jakarta. Mereka hanya melintas menuju Bandung setelah sebelumnya ikut meramaikan laga final LSI di Palembang pada hari Jumat (8/11).


Fanatisme dan sentimen antar pendukung tampaknya masih belum bisa menjadi energi positif bagi perkembangan sepakbola tanah air. Apa boleh buat, soal-soal semacam ini tampaknya masih harus menjadi catatan keras seluruh pemangku kepentingan sepakbola


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!