toleransi, islam, gereja, ibadah, ahok

Tak setiap hari kita bicara soal toleransi, meski sebetulnya setiap jengkal hidup kita adalah soal toleransi. Hari Toleransi Internasional baru diperingati pada 16 November, dan ada banyak hal yang mengingatkan soal pentingnya menjaga perbedaan supaya tetap damai.

Gereja Katedral di Washington memberikan banyak pelajaran. Jumat lalu, untuk kali pertama digelar shalat Jumat di sana. Banyak yang mencibir, sembari buru-buru menyodorkan aturan bahwa shalat tidak boleh digelar di dalam gereja. Yang jauh lebih banyak adalah mereka yang berdecak kagum.

Ini adalah bukti nyata toleransi ketika umat Islam beribadah di dalam gereja. Ketika shalat Jumat terlaksana, penempatan sajadah dipastikan tak menghadap ke salib. Ibadah berlangsung lancar, tanpa gangguan.

Sementara di Bekasi, seorang guru agama Islam berjibaku mengajarkan soal indahnya perbedaan kepada murid-muridnya. Ia menjaga betul supaya SD negeri tempatnya mengajar menjadi ruang publik yang bebas bagi semua agama dan kepercayaan. Bagimu agamamu, bagiku agamaku, kata guru Syamsuri mengutip Al Quran. Ini jadi kabar yang menyejukkan mengingat di Bekasi ada banyak kasus intoleransi. (Baca: Belajar Toleransi dari Ruang Kelas)

Sebuah gereja di Tambora, Jakarta Barat, juga memberikan pelajaran soal toleransi. Tahun lalu, izin gereja ini mendadak dipersoalkan oleh mereka yang menyebut diri sebagai warga. Tak jelas betul apakah mereka betulan warga atau bukan. Karena para pedagang di sekitar gereja, yang juga tinggal di sana, mengaku tak pernah risau dengan kehadiran gereja. Kini gereja bisa tetap berdiri, meski harus berkompromi dengan situasi: tak pasang salib di bangunan gereja, juga tak bunyikan lonceng saat misa.

Hidup damai dan jemaat bisa kembali beribadah.

Dan Ahok, seorang Kristen dan Tionghoa, segera memimpin Jakarta. Hari-hari belakangan ini kita lihat bagaimana sekelompok orang mencoba mendongkel Ahok dari posisi ini. Tapi Ahok tak gentar. Ia justru membela Islam dengan mengatakan FPI, yang menolak dirinya jadi gubernur, telah bertindak tak Islami.

Setiap orang mesti terbiasa dan belajar hidup dalam aneka perbedaan. Perbedaan mesti dilihat sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tak perlu berlebihan. Seperti kata Gus Dur, Tuhan tak perlu dibela. Dan bukan manusia pula yang menentukan masuk surga atau neraka.

Jadi, santai saja. Berbeda itu biasa. Karena setiap jengkal kehidupan kita adalah soal toleransi.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!