Mafia migas, Petral sarang korupsi, Petral dibubarkan, korupsi Pertamina, Menteri ESDM Sudirman Said mafia migas

Presiden Joko Widodo tampaknya tak hendak membubarkan PT Pertamina Energy Trading Ltd atau lebih dikenal dengan nama Petral. Petral adalah anak usaha PT Pertamina yang berkedudukan Di Singapura. Didirikan pada 1976, perusahaan ini ditugasi untuk melakukan usaha perdagangan ekspor impor energi untuk kepentingan dalam negeri Indonesia.


Desakan agar Petral dibubarkan memang datang belakangan setelah banyak pihak curiga Petral telah menjadi sarang mafia. Mata rantai yang panjang dalam perdagangan migas, yang sebenarnya bisa dilakukan secara G to G, menjadi lubang yang dimanfaatkan sekelompok orang untuk menggelembungkan kantong mereka sendiri.


Isu mafia migas bahkan menjadi salah satu isu panas dalam pemilu presiden lalu. Baik pasangan Jokowi – Jusuf Kalla maupun Prabowo – Hatta sama-sama menyatakan komitmennya untuk memberantas mafia migas ini. Tapi dari mana memulainya, solusi yang ditawarkan kedua pasangan tak begitu jelas.


Kini Presiden Jokowi sudah berkuasa. Kabinet pun sudah terbentuk. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM) dipercayakan kepada Sudirman Said, pegiat anti korupsi yang terakhir menjabat sebagai Dirut PT Pindad. Dan isu mafia migas kembali muncul.


Menurut Sudirman Said, Presiden tak memberikan arahan untuk membubarkan Petral. “Tapi kontrolnya harus berpihak untuk nasional,” kata sang Menteri.


Pak Menteri mungkin betul. Kontrol itulah yang selama ini hilang, sehingga banyak kalangan menilai harga BBM yang kita impor selama ini sepenuhnya dikendalikan para mafia. 


Membubarkan Petral juga tak bisa buru-buru karena ada kebutuhan pasokan dalam negeri yang harus dipenuhi. Presiden Jokowi sudah mulai membuka hubungan dengan produsen baru, yakni Angola. Ini kemungkinan besar juga akan diikuti negara-negara lain. Semestinya begitu, negosiasi pasokan energi harus dilakukan langsung antar pemerintah. Bukan diserahkan ke pihak ketiga yang membuka kesempatan terjadinya kongkalikong para tikus mafia.


Sembari itu, pemerintah mesti segera mengambil alih kontrol atas Petral, yang setiap tahun menyumbang dividen lumayan besar kepada perusahaan induknya, Pertamina. Caranya, antara lain mengganti seluruh direksi dan manajemen Petral yang selama ini disinyalir berada dalam kendali para mafia.


Memberantas tikus, memang tidak harus dengan cara membakar seluruh sarangnya. Pertanyaannya: mampukah Menteri ESDM melakukan itu?


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!