Ahok dan Warga Kosmopolit

Seorang pemimpin memang tak boleh dinilai dari aspek suku atau agamanya, melainkan kompetensi dan tindakannya. Negara tidak boleh takut dengan pelaku intoleran!

Kamis, 20 Nov 2014 09:23 WIB

ahok, kosmopolit, jakarta, gubernur, tionghoa

Pelantikan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok Rabu kemarin (19/11) oleh Presiden Joko Widodo membawa angin segar bagi kehidupan toleransi bangsa ini. Presiden Jokowi pun membuat sejarah untuk Ahok yang menjadikannya sebagai keturunan Tionghoa pertama dan gubernur beragama non-Muslim kedua yang bisa menjadi orang nomor satu di ibu kota negara. Gubernur DKI Jakarta pertama dari kalangan non-Muslim adalah Henk Ngantung yang diangkat Presiden Soekarno pada 27 Agustus 1964.

Kita tahu, pelantikan Ahok bukan tanpa hambatan. Sebagian kalangan DPRD DKI Jakarta dan ormas intoleran Front Pembela Islam (FPI) selama ini berupaya mati-matian membatalkan pelantikan Ahok. Namun, Presiden Jokowi bergeming. Ia memilih tetap menjalankan amanat undang-undang untuk melantik bekas wakilnya di Pemprov DKI itu. (Baca: Ahok Tunggu Tindak Lanjut Pembubaran FPI)

Boleh jadi, peristiwa ini sangat langka bahkan sulit terlaksana di ibu kota negara yang kita tahu sebagian besar penduduknya beragama Islam. Ahok pun mengaku ketiban pulung karena bisa dilantik menjadi gubernur. Ia pun menjadi gubernur pertama yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Selain penghormatan pada konstitusi dan undang-undang, peristiwa ini menjadi pelajaran bangsa ini dalam kehidupan toleransi. Ideologi dan kepentingan politik yang berbasis suku, agama, ras dan golongan (SARA) harus disingkirkan demi kepentingan umum dan bangsa. Sebab kita tahu, Ahok selama ini menunjukkan kinerja yang baik untuk menjadi pemimpin di Jakarta. Ia terbukti bersih dari korupsi, berani, tegas serta mau dan bisa bekerja.(Baca: Setelah Jadi Gubernur, Ahok Akan Selamatkan 634 RW di Jakarta)

Ini yang membuat Ahok didukung warga Jakarta baik secara langsung maupun di dunia maya. Hari Minggu (16/11) melalui tanda tangan, warga Jakarta menyatakan dukungannya kepada bekas Bupati Belitung Timur itu. Di dunia maya pada Jumat (14/11) lalu, tanda pagar #GubernurAhok mendominasi linimasa media sosial Twitter dan menjadi trending topic dunia. Itu bukti, warga Jakarta sudah kosmopolit secara intelektual.

Warga Indonesia, tak hanya Jakarta, mesti berubah. Seorang pemimpin memang tak boleh dinilai dari aspek suku atau agamanya, melainkan kompetensi dan tindakannya. Negara tidak boleh takut dengan pelaku intoleran!

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi