Ilustrasi. Foto: diskominfo.riau.go.id

Ilustrasi. Foto: diskominfo.riau.go.id

Kabut asap belum juga pergi dari Indonesia. Dan korban yang sungguh tak bisa ditolerir adalah manusia –harus ada yang sakit, bahkan meninggal, karena asap. Di Pekanbaru, ada Hanum, yang diduga meninggal karena asap. Tapi ketika kasus Hanum muncul, yang terjadi pertama kali justru pengingkaran. 


Penyebabnya bukan asap, tapi meningitis, kata pejabat kesehatan setempat. Orangtua Hanum terluka. Mengoreksi penyebab kematian anak mereka seperti pura-pura tak tahu kalau ada asap merundung sepanjang hari. Orangtua Hanum lantang bicara: akui sajalah kalau ini karena asap.


Setelah Hanum, ada Nabila di Jambi. Bayi mungil ini baru berusia 15 bulan. Seperti sebelumnya, yang pertama muncul adalah pengingkaran. “Nabila meninggal karena pneumonia,” kata Dinas Kesehatan Jambi, sembari juga menyalahkan orangtua Nabila karena terlambat membawa anak berobat.


Jawaban ini seperti tak berempatikepada orangtua Nabila. Seperti kabut asap itu hal yang biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Padahal Kementerian Kesehatan sudah menyebutkan kalau pneumonia adalah salah satu dampak dari asap. Dan asap juga yang sudah jelas-jelas menyebabkan 60 ribuan masyarakat Jambi terserang ISPA.


Ada banyak warga seperti keluarga Hanum atau Nabila yang tinggal di daerah yang terkena dampak asap. Riau dan Jambi sampai perlu mengingatkan kalau mereka masih bagian dari Indonesia demi mencuri perhatian khalayak ramai. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, areal terbakar di Jambi saat ini sudah lebih dari 20 ribu hektar. Tiga posisi teratas penghasil asap ditempati oleh Riau, Kalimantan Tengah lalu disusul Jambi. Upaya menghilangkan asap jelas tak mudah, tapi Pemerintah sebetulnya juga sudah mengantongi nama-nama perusahaan penyebab asap itu. Jangan lupa, Pemerintah sudah berjanjia kalau persoalan kabut asap akan tuntas sebelum akhir September – dan tebak sekarang sudah bulan apa.


Orangtua Hanum dan Nabila sudah merelakan anak mereka dan berharap anak mereka jadi korban terakhir. Terakhir. Dua korban meninggal itu sudah lebih dari cukup.  


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!