Menjaga Singkil Tetap Sekata Sepakat

Pemerintah daerah juga aparat kepolisian mesti segera menuntaskan konflik itu. Bisa dimulai dengan menangkap dalang yang menghasut aksi.

Rabu, 14 Okt 2015 10:00 WIB

Foto: Brades Sijabat

Foto: Brades Sijabat

Sebagian daerah merayakan tahun baru Islam, 1 Muharam 1437 Hijriah dengan penuh suka cita. Mulai dari pawai obor hingga ledakan petasan sebagai ungkapan kegembiraan. Tahun baru, semangat baru untuk hidup yang lebih baik.

Tapi suka cita tahun baru tak dirasakan sebagian warga di Aceh Singkil. Segerombolan orang mengamuk lantas membakar gereja di Serambi Mekkah. Akibat peristiwa kerusuhan itu dikabarkan satu orang tewas dan empat lainnya luka-luka.

Aksi rusuh ini tak spontan. Sepekan sebelumnya segerombolan orang berunjukrasa di kantor pemda. Mereka mendesak pemda membongkar sejumlah gereja lantaran dituding tak berizin. Sebagian juga merujuk kesepakatan 30an tahun silam yang menyatakan cuma boleh ada satu gereja di daerah itu. Para pengunjukrasa memberi waktu pemda selama tujuh hari untuk membongkar. Bila tidak mereka yang akan membongkar, kata mereka mengancam.

Ancaman itu kemarin terbukti. Tak tampak antisipasi dari aparat pemda dan kepolisian untuk mencegah aksi itu berujung rusuh dan memakan korban jiwa. Padahal jika cepat bergerak, tak perlu ada korban dan hancurnya harta benda mestinya tak terjadi.

Kita ingin ingatkan kembali tulisan yang terpampang di logo daerah Aceh Singkil. “Sekata Sepakat”. Dalam situs pemda kata itu dipahami sebagai “Keharmonisan, Persaudaraan dan Toleransi”. Apa yang terjadi kemarin sungguh jauh dari slogan daerah itu. Yang muncul justru ketidakharmonisan, permusuhan dan intoleransi.

Pemerintah daerah juga aparat kepolisian mesti segera menuntaskan konflik itu. Bisa dimulai dengan menangkap dalang yang menghasut aksi. Dengan awalan tindakan tegas penegakan hukum ini bisa jadi terapi kejut. Harus ada penegasan, tak ada toleransi bagi aksi rusuh.


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Pemenang Tender Beberkan Nama Anggota DPR Penerima Suap Proyek Bakamla

  • 100 Hari Anies-Sandi, FPDIP Anggap Kebijakan Penataan Tanah Abang Paling Bermasalah
  • AS Tuding Rusia Terlibat Serangan Kimia Suriah
  • Barcelona Siapkan Nomor 7 untuk Griezmann, Bukan Coutinho

Susu menjadi asupan makanan penting pertama yang dikonsumsi manusia dan diperlukan manusia sepanjang hidup, bukan hanya ketika bayi dan balita saja.