Ilustrasi: Antara

Ilustrasi: Antara

Seorang pekerja rumah tangga bernama Topiah terpaksa lari dari rumah majikannya di Jakarta dan pulang ke Karawang, Jawa Barat. Dengan meloncat pagar, ia naik kereta sambil menangis. Telinganya bengkak dan ada luka di beberapa bagian tubuhnya. Ia menjadi korban siksaan majikan.

Begitu yang disampaikan pendamping korban dari yayasan bantuan hukum perempuan LBH APIK maupun hasil visum yang diterima Polda Metro Jaya. Selain dari LBH APIK, Topiah juga mendapat bantuan dari LBH Jakarta.

Kasus yang menimpa pekerja bernama Topiah itu langsung ditangani Kepolisian Jakarta dan mendapat sorotan luas media massa. Ini karena orang yang diduga pelaku penganiayaan bernama bernama Fanny Safriansyah alias Ivan Haz.

Ivan Haz adalah anggota DPR dari Fraksi PPP. Ia anak bekas Wakil Presiden Hamzah Haz. Selain Ivan, istrinya juga diduga terlibat dalam kekerasan terhadap pekerja rumah tangga.
 
Selama ikut keluarga Ivan Haz, Topiah bertugas menjadi pengasuh anak. Menurut para pendamping korban, Topiah kerap mendapat perlakuan tidak manusiawi. Bila anak rewel, si pekerja yang menjadi sasaran. Dipukul dengan tangan atau benda-benda keras lain. Bahkan kabarnya urusan makanan pun mengenaskan. Ia hanya dijatah lauk sepotong tempe per hari, itu pun dibagi bertiga dengan pekerja rumah tangga lainnya.

Jika Ivan Haz dan istrinya benar-benar melakukan kekerasan maka tidak menutup kemungkinan anggota DPR lain pun punya mental yang sama dalam menghadapi PRT di rumahnya. Itu pula mungkin yang menyebabkan pembahasan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di DPR makin tak jelas nasibnya.

Kasus kekerasan terhadap pekerja seperti Topiah tak kurang banyaknya. Bahkan setiap tahun cenderung naik. Pada 2014, kasus kekerasan fisik terhadap PRT mencapai 400-an kasus, naik hampir dua kali lipat dibanding dua tahun sebelumnya.

Kita wajib mengawal kasus yang menimpa Topiah untuk mengingatkan agar tidak terjadi kasus-kasus berikutnya. Jangan sampai polisi keder dan malah berpihak pada Ivan Haz berstatus anak bekas wakil presiden. Dengan terus mengangkat isu ini, kita berharap DPR tersentuh hatinya untuk segera mengesahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!