Bayi Dego, korban asap. (Foto: Koalisi Jambi Melawan Asap)

Bayi Dego, korban asap. (Foto: Koalisi Jambi Melawan Asap)

Pemerintah meminta perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran terlibat dalam proses penanganan bencana kabut asap. Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi M. Nasir mengatakan keterlibatan perguruan tinggi ini akan dikoordinasikan dengan Kementerian Kesehatan. Kata Pak Menteri, keterlibatan itu sifatnya wajib. 

Pemerintah tampaknya mulai kewalahan menangani dampak kabut asap yang sudah berpekan-pekan belum bisa ditanggulangi. Kemarau yang berkepanjangan memperparah. Alih-alih asap menipis, belakangan hari justru titik panas meluas hingga ke kawasan timur Indonesia. Alhasil kabut asap menebal, menyebar bahkan berdampak pada provinsi lain hingga melintasi pulau. Indonesia darurat asap. 

Situasi yang makin tak karuan inilah yang sepertinya mendasari Jokowi segera menerbitkan Instruksi Presiden Penanggulangan Bencana. Kata Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan, inpres dikeluarkan untuk memberikan payung hukum dalam penanganan bencana asap. 

Inpres ini sebenarnya sejak setahun silam sudah disiapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Jadi tak melulu untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Inpres ini meliputi berbagai macam bencana - dari banjir, gempa, tanah longsor sampai kebakaran hutan dan lahan. Intinya, kata BNPB, inpres ini membagi fungsi dan tugas BNPB serta lembaga lain agar mempererat kerjasama dan bergotongroyong menangani darurat bencana. 

Karena itulah sepatutnya perguruan tinggi khususnya yang memiliki Fakultas Kedokteran menyambut seruan Pak Menteri. Segera mengerahkan segenap sivitas akademi untuk membantu korban asap. Apalagi besok 24 Oktober bertepatan dengan peringatan Hari Kedokteran. Sudah sepatutnya turut turun ke lapangan bahu membahu membantu korban terdampak asap. Menolong sesama sekaligus mengamalkan ilmu yang didapat di perguruan tinggi. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!