kekerasan, sekolah, Sekolah Dasar, Trisula Perwari, Bukittinggi

Kekerasan bisa terjadi di mana-mana, bahkan di lingkungan yang dianggap aman. Korbannya dari berbagai usia, tidak terkecuali anak-anak. Kasus terakhir adalah kekerasan yang dilakukan sejumlah siswa sekolah dasar di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Siswi pelajar kelas V Sekolah Dasar Trisula Perwari Bukittinggi, menjadi korban pemukulan rekan satu kelasnya saat jam pelajaran berlangsung. Bayangkan, kekerasan di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya dapat membuat orangtua merasa tenang menitipkan anaknya menempuh pendidikan.

Angka kekerasan di lingkungan sekolah terus meningkat setiap tahun. Data Komisi Perlindungan anak Indonesia (KPAI) menyebut, di tahun 2012 saja kekerasan terhadap anak di sekolah meningkat lebih dari 10%. Kekerasan ini meliputi kekerasan yang dilakukan guru ke siswa maupun siswa ke siswa lainnya.

Sudah banyak yang membahas penyebab terjadinya kekerasan ini Mulai dari perilaku anak, pengaruh lingkungan keluarga dan sekolah sampai kurangnya pengawasan orangtua.

Tapi yang tak kalah penting adalah dampak dari kekerasan itu Dampak yang pastinya bakal terus melekat pada siswi kelas V SD di Bukittinggi itu. Kekerasan yang dialaminya dapat menimbulkan dampak buruk secara fisik, seperti adanya organ tubuh yang mengalami cedera. (Baca: Kasus Kekerasan di Bukittinggi Harus Diselesaikan Lewat Peradilan Anak)

Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah dampak psikis seperti trauma, takut, tidak nyaman, dendam, tak percaya diri, stres, malas belajar Dalam jangka panjang, dampak kekerasan dapat terlihat dari menurunnya prestasi anak dan adanya perubahan perilaku pada anak.

Jika tak segera ditangani, si anak bakal menarik diri dari pergaulan. Rasa malu dan takut membuat mereka menutup diri dan tak pernah merasa nyaman di tengah teman-temannya.

Guru harusnya lebih proaktif mengawasi murid-muridnya. Jika ada siswa yang potensial melakukan tindak kekerasan, laporkan ke kepala sekolah. Guru juga harus rajin berinteraksi dengan muridnya, dan laporkan baik ke pihak sekolah maupun orangtua apabila ada perubahan perilaku yang drastis dari murid tersebut.

Orangtua harus sering-sering bertanya tentang kegiatan anaknya di sekolah. Jalinan komunikasi ini penting agar anak tak merasa diabaikan baik di sekolah maupun rumah. Awasi juga tayangan televisi atau film yang tidak mendidik, yang banyak mengandung unsur kekerasan.

Semua pihak harusnya sadar anak bisa melakukan tindak kekerasan maupun menjadi korban kekerasan yang terjadi bahkan di lingkungan pendidikan sekalipun. Kita semua harus waspada.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!