revolusi, jokowi, jusuf kalla, revolusi mental

Mengapa pelantikan Joko Widodo dan Jusuf Kalla harus dirayakan? Ada suara suara-suara nyinyir yang menolak syukuran rakyat, 20 Oktober mendatang, dihelat. Mereka jelas keliru. Masa kepemimpinan Jokowi-JK, begitu nama mereka biasa disingkat, harus disyukuri karena sedikitnya tiga alasan.

Pertama, Jokowi berkali-kali menyatakan bahwa persoalan bangsa ini harus diselesaikan lewat revolusi mental. Bentuk gerakannya seperti apa belum bisa dirinci benar. Tapi, apa yang mau dirinci dari suatu revolusi? Gerak revolusi pasti dinamis dan yang dinamis tak mengizinkan sistematika a la seremoni kenegaraan. Tak ada protokol resmi dalam revolusi kecuali satu: perubahan cepat dari dasar.

Kedua, kehadiran Jokowi-JK melalui proses politik yang melibatkan puluhan juta rakyat. Yang terlibat bukan cuma fisik dan dana, tapi juga emosi. Ujung dari proses ini adalah hari pelantikan. Yang itupun beberapa kali muncul hadangan dan hambatan. Kejaksaan Agung sampai diminta memastikan apakah Jokowi terlibat dalam korupsi pengadaan bus Trans Jakarta atau tidak.

Ketiga, tradisi menyambut pemimpin baru adalah tradisi baik. Itu berarti ada kontrak yang nyata. Perjanjian sosial bukan suatu formalitas hitam di atas putih. Perjanjian sosial diikat melalui upacara riang gembira seperti syukuran yang bakal berlangsung Senin nanti.

Tapi yang pertama itu paling penting. Revolusi mental. Selama beberapa pekan terakhir sebagian pendukung sempat ketar ketir. Perkaranya, dalam penyusunan kabinet muncul berbagai kemungkinan bahwa Jokowi akan kompromi dengan partai-partai politik bekas lawan tanding demi dukungan suara di DPR. Kalau ini yang terjadi, kata kunci revolusi mental bakal masuk kotak. Politik menyudahi gagasan besar itu dengan karakter banalnya. (Baca: Jokowi : Revolusi Mental Manusia Indonesia !)

Itu sebab, Jokowi harus selalu dikawal. Setelah tanggal 20 Oktober, bukan lagi dengan elu-elu pujian. Ia harus dikawal oleh kritik, oleh data, dan juga kerja nyata semua orang. Sebab sesungguhnya Jokowi bersama JK hanyalah dua orang. Kita harus kembali kepada kesadaran pertama saat memulai dukungan terhadap Jokowi. Bahwa ia adalah orang biasa yang telanjur memberi inspirasi perubahan bagi semua. Pada kesadaran serupa itu, kita harus mafhum bahwa inspirasi hanya akan menjadi harapan belaka bila terlalu berharap banyak pada tokoh. Kerja perubahan itu melibatkan banyak orang. Kita. Dan seperti itulah sebuah revolusi. Maka, mari kita mulai.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!