Pertarungan Terakhir di Senayan

Protes PDI Perjuangan yang memperoleh kursi terbanyak di parlemen dan karenanya merasa berhak mendapat kursi ketua DPR, menguap begitu saja.

Minggu, 05 Okt 2014 21:30 WIB

koalisi prabowo, koalisi jokowi, pemilihan ketua dpr, pemilihan ketua mpr, rebutan kursi senayan

Hari ini Senayan bakal ramai lagi. Sesudah sidang pertama yang memilih ketua dan wakil-wakil ketua DPR, agenda hari ini adalah pemilhan ketua dan beberapa wakil ketua MPR. Selain anggota DPR, sidang kali ini juga akan diramaikan peserta dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang pekan lalu juga sudah berhasil memilih ketua dan wakil-wakilnya.


Akankah ruang sidang paripurna bakal ricuh lagi seperti yang terjadi pada pemilihan ketua dan wakil ketua DPR? Kita tentu berharap para wakil rakyat kali ini bisa lebih bersikap dewasa. Tidak berebut bicara, bahkan berteriak-teriak seperti sebuah demonstrasi jalanan. Sidang parlemen adalah sebuah siding yang terhormat dan selayaknya para anggota parlemen bisa mendudukkan dirinya sebagai orang yang terhormat pula.


Kita tahu, pada sidang pemilihan ketua dan wakil Ketua DPR, koalisi pendukung Prabowo telah berhasil menyapu bersih seluruh kursi yang diperebutkan. Dengan sistem pemilihan berupa paket ketua dan wakil ketua, koalisi Prabowo yang memiliki jumlah kursi lebih banyak akhirnya berhasil mengalahkan koalisi pendukung Presiden Terpilih Joko Widodo. Bendahara Partai Golkar Setya Novanto pun terpilih sebagai Ketua DPR dengan Fahri Hamzah (PKS), Fadli Zon (Gerindra), Agus Hermanto (Demokrat), dan Taufik Kurniawan (PAN) sebagai wakil-wakilnya. Protes PDI Perjuangan yang memperoleh kursi terbanyak di parlemen dan karenanya merasa berhak mendapat kursi ketua DPR, menguap begitu saja.


Kekalahan kubu pro Jokowi ini menyusul kekalahan pada sidang paripurna DPR periode sebelumnya ketika menetapkan UU Pilkada lewat DPRD yang kontroversial. Pada sidang yang diwarnai aksi walk out sebagian besar anggota Fraksi Partai Demokrat ini, kubu pro Prabowo menang telak lewat opsi pilkada yang memangkas hak rakyat untuk memilih secara langsung kepala daerahnya. Presiden SBY yang ketika sedang dalam lawatan keluar negeri pun menjadi sasaran protes publik yang kemudian memaksanya mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) yang menganulir keputusan parlemen.


Hawa panas yang muncul sejak pemilu presiden lalu tampaknya memang tak hendak mendingin hari-hari ini. Berbagai manuver politik dan hukum yang dilakukan partai-partai pro Prabowo terus dilakukan. Gagal mengantarkan Prabowo sebagai presiden, mereka memang mengincar kepemimpinan di parlemen, baik DPR maupun MPR.  


MPR adalah pertaruhan terakhir bagi kubu pro Jokowi. Kalau konstelasi suara tak berubah akibat lobi-lobi yang mandek, kita tak perlu kaget kalau koalisi Prabowo akan menguasai Senayan sepenuhnya.


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.