istana, joko widodo, andika perkasa, sby

Apakah kompleks Istana Kepresidenan bisa benar-benar menjadi istana rakyat di era Presiden Joko Widodo? Atau sebaliknya, menjadi rumah sakral baginya dan kalangan penggede saja? Pertanyaan ini menggelitik orang yang kerap membandingkan penghuni istana dari masa ke masa.

Bukan rahasia, di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pengamanan presiden dan istana begitu ketat. Sulit membayangkan, misalnya bagi jurnalis yang bertugas di Istana untuk bisa mewawancarai langsung (doorstop) SBY. Wartawan pun tak leluasa untuk masuk ke Kompleks Istana jika tak ada acara.

Hal berbeda pada zaman kepemimpinan Presiden keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Wajah angker Istana ia ubah menjadi rumah rakyat nan nyaman. Protokoler Istana yang super ketat dilonggarkan demi kepentingan rakyat yang hendak bertemu.

Lantas bagaimana dengan Presiden Jokowi? Ada ungkapan rumah mencerminkan karakter pemiliknya?. Selama ini kita melihat karakter Jokowi yang tak bisa jauh dari rakyat. Karenanya kita berharap Jokowi tidak melupakan rakyat saat ia ada di Istana. Rakyat yang berkepentingan tetap bisa berdialog seperti saat ia melakukan "blusukan" ke tengah masyarakat.

Soal ini sudah dibuktikan Jokowi di hari pertama ia menjadi presiden, Senin lalu. Beragam kalangan masyarakat bisa tumpah ruah di Istana Merdeka untuk menjadi saksi sejarah. Rabu (21/10) kemarin pun Jokowi membuka rumahnya untuk Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan jajaran pejabat Pemprov DKI Jakarta yang berkunjung.

Kita berharap Jokowi tidak berubah, seperti Jokowi apa adanya yang kerap tak nyaman dengan protokoler yang membatasi ruang geraknya dengan rakyat. Ini bisa dirasakan jurnalis yang bertugas di Istana. Walau sudah menjadi Presiden, mereka masih bisa mencegat Jokowi dengan beragam pertanyaan.

Melihat kebiasaan Jokowi ini, para pengawalnya pun siap berbenah diri. Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang baru dilantik kemarin, Andika Perkasa menyatakan, akan mengamankan Jokowi secara fleksibel tanpa mengendurkan pengamanan. Sebab bagaimana pun, keselamatan presiden dan wakil presiden tidak bisa ditawar lagi. Di situlah harga diri bangsa dipertaruhkan. (Baca: Ini Janji Komandan Paspampres yang Baru soal Pengamanan Jokowi)

Akhirnya, kita berharap wajah Istana lima tahun ke depan jauh dari aturan protokoler yang super ketat. Jangan jauhkan Jokowi dari rakyatnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!