asap, walhi, sumatera selatan, pembakaran lahan

Bayangkan setiap anda menarik nafas, ada asap ikut terhisap. Bayangkan setiap kedipan mata, ada asap yang membikin perih indera penglihatan anda. Dan itu terjadi setiap detik, berjam-jam bahkan hingga berhari-hari. Reda sekejap, lantas terjadi lagi beberapa hari atau pekan kemudian. Berulang-ulang. Akibatnya dari yang paling ringan tak bisa beraktifitas hingga gangguan kesehatan yang parah. Itulah yang dirasakan warga di Sumatera Selatan di musim kemarau ini.

Bahkan asap tak hanya menyebar ke provinsi tetangga, tapi menyusup hingga ke negeri jiran. Pertengahan bulan lalu Gubernur Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat bencana asap. Hujan buatan ditebar, untuk mengenyahkan asap dan mengurangi titik-titip panas di sejumlah kabupaten/kota. Seperti api dalam sekam, begitulah yang terjadi. Sejenak menghilang, beberapa waktu kemudian muncul lagi. Hingga kemarin terpantau masih ada 300 lebih titik panas penyebab kabut asap. (Baca: Bencana Asap Sumsel, WALHI: Singapura dan Malaysia Harus Ikut Tanggung Jawab)

Karena dampak yang ditimbulkannya, organisasi lingkungan Walhi mengajukan petisi pada pemprov Sumsel untuk mencabut izin konsesi perkebunan pelaku pembakaran lahan. Apa boleh bikin, merekalah yang selama ini dituding sebagai penyebab kabut asap. Cari cara murah membersihkan lahan dengan membakar. Padahal pendapatan daerah dari konsesi itu tak seberapa, biaya yang dikeluarkan untuk penanggulan bahaya asap di Sumatera ditaksir 20 triliun. Berkali lipat dari anggaran daerah Sumatera Selatan, misalnya.

Begitulah mestinya. Tak ada pilihan lain selain menegakkan hukum. Selain hukuman penjara, izin tentu harus dicabut. Agar orang jera. Agar pemilik konsensi tak asal cepat dan murah membersihkan lahan lewat membakar dengan tanpa memikirkan dampak derita jutaan orang yang jadi korban asap. Tanpa itu, jangan heran, bila asap kembali muncul. (Baca: Perusahaan Tebu Penyebab Kabut Asap Sumsel?)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!