Melawan Asap

Bayangkan setiap anda menarik nafas, ada asap ikut terhisap. Bayangkan setiap kedipan mata, ada asap yang membikin perih indera penglihatan anda.

Rabu, 15 Okt 2014 09:56 WIB

asap, walhi, sumatera selatan, pembakaran lahan

ARTIKEL TERKAIT

Bayangkan setiap anda menarik nafas, ada asap ikut terhisap. Bayangkan setiap kedipan mata, ada asap yang membikin perih indera penglihatan anda. Dan itu terjadi setiap detik, berjam-jam bahkan hingga berhari-hari. Reda sekejap, lantas terjadi lagi beberapa hari atau pekan kemudian. Berulang-ulang. Akibatnya dari yang paling ringan tak bisa beraktifitas hingga gangguan kesehatan yang parah. Itulah yang dirasakan warga di Sumatera Selatan di musim kemarau ini.

Bahkan asap tak hanya menyebar ke provinsi tetangga, tapi menyusup hingga ke negeri jiran. Pertengahan bulan lalu Gubernur Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat bencana asap. Hujan buatan ditebar, untuk mengenyahkan asap dan mengurangi titik-titip panas di sejumlah kabupaten/kota. Seperti api dalam sekam, begitulah yang terjadi. Sejenak menghilang, beberapa waktu kemudian muncul lagi. Hingga kemarin terpantau masih ada 300 lebih titik panas penyebab kabut asap. (Baca: Bencana Asap Sumsel, WALHI: Singapura dan Malaysia Harus Ikut Tanggung Jawab)

Karena dampak yang ditimbulkannya, organisasi lingkungan Walhi mengajukan petisi pada pemprov Sumsel untuk mencabut izin konsesi perkebunan pelaku pembakaran lahan. Apa boleh bikin, merekalah yang selama ini dituding sebagai penyebab kabut asap. Cari cara murah membersihkan lahan dengan membakar. Padahal pendapatan daerah dari konsesi itu tak seberapa, biaya yang dikeluarkan untuk penanggulan bahaya asap di Sumatera ditaksir 20 triliun. Berkali lipat dari anggaran daerah Sumatera Selatan, misalnya.

Begitulah mestinya. Tak ada pilihan lain selain menegakkan hukum. Selain hukuman penjara, izin tentu harus dicabut. Agar orang jera. Agar pemilik konsensi tak asal cepat dan murah membersihkan lahan lewat membakar dengan tanpa memikirkan dampak derita jutaan orang yang jadi korban asap. Tanpa itu, jangan heran, bila asap kembali muncul. (Baca: Perusahaan Tebu Penyebab Kabut Asap Sumsel?)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi: Bantuan untuk Kabupaten Asmat Terkendala Akses Transportasi

  • Pemikul Sabu 30 Kilogram Divonis 20 Tahun
  • Hari Kelima, Kabut Asap Tebal Landa Hong Kong
  • Federer Lolos ke Perempat Final Australia Terbuka

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.