dendam, bom bali, yayasan isana dewata

Tak mudah bagi korban atau keluarga korban  untuk memaafkan kekerasan yang pernah  dialaminya. Banyak konflik kekerasan yang tak henti terjadi lantaran ada dendam yang dipelihara dan tak mampu memaaafkan. Maka relevan permintaan Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika agar korban juga keluarga korban  bom Bali I memaafkan dan menghapus dendam.

Gubernur menyampaikan itu saat memperingati 12 tahun bom Bali di monumen Legian, Kuta, kemarin. Peristiwa rangkaian bom  belasan tahun silam merengut 200 lebih korban jiwa dan ratusan orang terluka yang berasal dari  berbagai Negara. Dua bom meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club di Legian. Bom ketiga meledak di Renon. (Baca: Korban Bom Bali: Jangan Lagi Ada Aksi Teroris di Indonesia)

Jelas tak mudah untuk memaafkan, butuh waktu yang tak sebentar. Tapi pilihan itu dengan sadar dilakukan oleh korban dan keluarga korban bom Bali I. Meski memaafkan, tak hendak peristiwa itu dilupakan. Maka korban dan keluarga yang tergabung dalam Isana (istri, suami, anak) Dewata memilih mengabadikan dalam situs http://www.yayasanisanadewata.com yang berisi kisah kepedihan mereka ditinggal anggota keluarga dan kegiatan mereka. (Baca: Keluarga Korban Bom Bali Luncurkan Website Tragedi Bom Bali)

Salah satunya adalah kisah Ibu Endang. Suaminya, Aris Munandar turut menjadi korban bom keji itu. Semenjak itu, Ibu Endang mesti banting tulang untuk membesarkan ketiga anaknya yang ketika itu masih kecil.  Lewat usaha garmen yang didirikan bersama keluarga korban, kehidupan harus terus berjalan demi anak-anak yang kini mulai beranjak dewasa.

Memelihara amarah, merawat dendam bukanlah jawaban. Hukum sudah ditegakkan, pelaku sudah menerima ganjarannya. Para korban dan keluarga korban bom Bali  sudah memberi contoh, menyiarkan perdamaian dan menyuarakan cinta kasih kepada masyarakat.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!