susunan kabinet kerja, pengumuman kabinet, kabinet kerja jokowi - jk, kabinet kerja joko widodo - jusuf kalla, kabinet jokowi

Setelah beberapa hari diwarnai ketidakpastian dan spekulasi, Presiden Jokowi akhirnya mengumumkan susunan kabinetnya, Minggu (26/10) sore.


Sebanyak 34 nama sudah mengisi formasi baru pembantu Presiden yang ia beri nama Kabinet Kerja.  Sebagian berasal dari kalangan praktisi-profesional, sebagian lagi merupakan representasi partai-partai politik meskipun bukan berarti yang terakhir ini tidak profesional.


Presiden secara khusus menyatakan pengumuman ini lebih cepat 8 hari dari waktu yang diberikan oleh undang-undang. Waktu yang disediakan undang-undang memang 14 hari, dan Jokowi menyelesaikannya pada hari ke-6. 


Pernyataan itu mungkin untuk menjawab berbagai kritik yang muncul, kenapa begitu lama bagi Jokowi untuk menyusun kabinetnya? Apalagi sebelum pengumuman Minggu sore, setidaknya dua kali wartawan kecele menunggu pengumuman yang ternyata tidak ada.


Ada kementerian yang hilang dari daftar, yakni Kementerian Sekretaris Kabinet. Sebaliknya, muncul Kementerian Koordinator baru, yaitu Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang dipegang Puan Maharani, putri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. 


Beberapa pos penting tampaknya juga akan menyusul. Di antaranya adalah Jaksa Agung dan Kepala BKPM. Sedangkan jabatan Panglima TNI dan Kapolri biasanya mengikuti masa pergantian sesuai periode masa jabatan.


Pemberian nama Kabinet Kerja, bukan Kabinet Trisakti sebagaimana banyak disebut belakangan ini, agaknya punya pesan khusus. Jokowi tak ingin para pembantunya bekerja lamban. Kalau bisa, begitu masuk hari pertama, langsung kerja. Bukan sibuk melakukan hal remeh-temeh dan upacara.


Dan memang itulah yang kita inginkan. Begitu banyak masalah yang sudah menghadang di depan, mulai nilai tukar rupiah yang terus terpuruk, masalah subsidi BBM yang tak mungkin dipertahankan lagi, hingga menekan berbagai tindak intoleransi yang mengancam kebhinekaan. Semua butuh prioritas. Semua butuh penanganan cepat. 


Sebagai tokoh yang dikenal pragmatis, berorientasi kerja, kita akan melihat apakah barisan kabinet baru ini mampu menerjemahkan visi Jokowi ke dalam program-program kerja yang konkret. Berbeda dengan pendahulunya, bekas Presiden SBY yang terlalu banyak berwacana, publik berharap Jokowi langsung bertindak tanpa banyak cakap.


Kita sudah tahu masalahnya, mari kita bekerja. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!