demokrasi, dpr, korupsi

Panggung DPR selama dua hari kemarin mengungkap secara konkret arogansi politisi. Kesombongan yang selama masa kampanye mereka tekan demi meraih simpati. Sesudahnya mereka tak segan memperlihatkan jati diri. Sesungguhnya kita belum beranjak ke mana-mana. Demokrasi yang kita bela ternyata masih mengembangbiakan oligarki. Ini karena mereka yang menyebut diri wakil rakyat, kebanyakan bukan mendapat mandat melainkan membelinya dari rakyat.

Mari kita pahami betul apa yang terjadi di Senayan. Sebelumnya kita harus sama-sama sepakat dulu bahwa esensi demokrasi sesungguhnya tidak serumit bunyi kalimat DPR menyusun tata tertib. Esensi demokrasi adalah merawat kepercayaan rakyat. Rakyat adalah asal dari mana suatu kekuasaan datang dan arah atau tujuan dari pelaksanaan kekuasaan. Tak ada kekuatan lain kecuali rakyat dan tak ada motif lain kecuali demi rakyat.(Baca: Akhirnya, Koalisi Prabowo Kuasai Pimpinan Parlemen)

Maka, kursi pimpinan DPR tak lain dan tak bukan mestinya diisi oleh orang-orang yang dikenali memiliki integritas kerakyatan, dan tak perlu diperebutkan dengan mengikutsertakan akal bulus di dalamnya. Kita setuju untuk selalu menghargai prinsip praduga tak bersalah. Tapi untuk suatu posisi terhormat kita juga mestinya mencegah jatuhnya nila barang setitik jua. Bila kebanyakan anggota DPR tak memahami prinsip sederhana seperti ini kita pastilah telah menyesal telah memilih mereka. Bahkan penyesalan lebih dalam juga dibolehkan. Kita boleh menyesal mengapa bumi membiarkan kelahiran orang-orang seperti mereka. Mengapa orang yang bolak-balik diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, orang yang secara umum diketahui pandai mengakali hukum bisa duduk di kursi terhormat?

Kita harus berani bilang bahwa praktik kekuasaan dan penguasaan yang dipertontonkan sebagian anggota DPR kemarin, lahir dari akal bulus yang sungguh tercela. Lihatlah betapa mekanisme pemilihan berdasarkan paket koalisi telah membelah alam pikir dan sikap politik DPR semata-mata kembali berkiblat kepada partainya.

Partai. Bukan kepada pemilih. Rakyat. Mereka yang bangun pagi-pagi lalu antre di tempat pemungutan suara. Dan DPR telah berlaku khianat. Jutaan mata kita menyaksikannya secara langsung. Kita dikhianati.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!