facebook, Joko Widodo, Mark Zuckerberg, blusukan

Ketika Facebook baru datang ke Indonesia, banyak kantor yang cemas akan produktivitas karyawannya. Sejumlah kantor bahkan memblokir akses ke Facebook demi memastikan stafnya tak kebanyakan ngobrol dan lebih serius bekerja. Nyatanya, keeratan Facebook dan Indonesia tak bisa terbendung. Indonesia dikenal sebagai kota tercerewet di kancah media sosial, baik itu di Facebook maupun di Twitter. Indonesia tak lagi menjadi negeri di antah berantah yang hanya dikenal dengan Bali, tapi melejit menjadi primadona media sosial.

Mulai dari sebatas ngobrol, reuni dengan teman lama, pamer foto makanan sampai bergulir ke arah bisnis online juga kampanye. Kehidupan nyata orang-orang Indonesia tak hanya terjadi di warung kopi, tapi juga di layar ponsel dan layar komputer. Online dan offline adalah kehidupan yang sama nyatanya bagi banyak orang Indonesia.

Presiden terpilih Joko Widodo pun dikenal dengan kepiawaiannya memakai media sosial dalam menjangkau khalayaknya. Teknologi sudah direngkuh menjadi bagian dari kerja pemerintahan, demi mempermudah dan memperlancar kerja. Sejumlah kepala daerah sama melek teknologi-nya dengan Jokowi. Walikota Bandung Ridwan Kamil, misalnya, mewajibkan kepala-kepala dinasnya untuk aktif di Twitter demi memantau dinamika kota. Sementara Jokowi segera membawa IT dan media sosial ke ranah yang lebih terhormat lagi, yaitu lewat program e-blusukan yang digagasnya. (Baca: Bos Facebook Temui Jokowi)

Ini juga yang dibaca oleh Mark Zuckerberg. Setelah pertemuannya dengan Jokowi kemarin, Mark langsung menawarkan platform Facebook untuk membantu UKM, juga membantu e-blusukan-nya Jokowi. Bagi Facebook, Indonesia adalah pasar yang luar biasa dinamis dan besar untuk mengembangkan bisnis. Pemikiran itu pun tak hanya dimiliki oleh Facebook, tapi juga oleh sekian banyak perusahaan IT dunia yang memutuskan untuk buka kantor di sini. (Baca: Bos Facebook Siap Bantu Pemerintahan Jokowi)

Ini saat yang tepat bagi Indonesia untuk membalik posisi. Supaya Indonesia tak sekadar menjadi pasar yang perlu dikeruk, tapi juga sebagai tempat pembibitan benih-benih IT baru. Kalau melulu jadi pasar, ya rugi. Indonesia harus menaikkan level menjadi pemain serius di bidang IT. Yang mula-mula hanya hobi, lantas berkembang jadi pasar, maka kelak mesti jadi pemain besar.

Ini akan jadi modal baru negeri ini untuk maju, bersaing dengan negara-negara lain. Dengan begitu, Indonesia tak melulu mengandalkan sumber daya alam yang kita sama-sama tahu ada ujungnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!