Sandera

Tapi di tengah jalan, tim KLHK dihadang. Dicegat, dipaksa menghapus foto, video, serta mencabut plang yang dipasang di lokasi karhutla.

Senin, 05 Sep 2016 00:22 WIB

Ilustrasi karhutla (foto: Antara)

Ilustrasi karhutla (foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Tujuh petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu tengah bertugas mewakili negara. Mereka menjalankan perintah Menteri Siti Nurbaya untuk menyelidiki penyebab meluasnya titik api di Riau. Dari penginderaan satelit, sumber titik api penyebab asap sudah sampai ke luar Riau. Menurut data KLHK, salah satu titik api di Rokan Hulu berasal dari lahan yang dikuasai PT Andika Permata Sawit Lestari, PT APSL.

Tapi di tengah jalan, tim KLHK dihadang. Dicegat, dipaksa menghapus foto, video, serta mencabut plang yang dipasang di lokasi karhutla. Tim 7 orang tentu tak sebanding untuk menghadapi massa lebih 100 orang. Apalagi tim diancam bakal dipukuli, dilempar ke sungai, dibunuh dengan cara dibakar dan ancaman lainnya.

Tim akhirnya bebas. Menurut Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Riau, para penyandera menyampaikan tiga tuntutan: mencabut segel di lahan yang terbakar, menghapus rekaman video serta meminta pimpinan KLHK berdialog langsung dengan warga desa. Namun sejak awal Menteri Siti Nurbaya menduga kalau warga yang menyandera itu bukan warga biasa – tapi dikerahkan oleh salah satu perusahaan yang lahannya terbakar, PT APSL.

Aksi penyanderaan ini jelas merendahkan wibawa Negara. Apalagi di sana diperkirakan ada 2600 hektar lahan yang dibakar – dan itu adalah hutan produksi yang sengaja dirambah. Ini jelas kasus serius yang harus diselidiki sampai tuntas. Karenanya kita harus mendukung KLHK yang akan memperkarakan aksi ini secara pidana, perdata dan administrasi.

Negara lemah ketika Polda Riau mengeluarkan SP3 terhadap penyidikan 15 perusahaan pembakar lahan pada 2015. Jangan sampai  Negara kalah lagi, dan malah disandera, dalam mengusut kasus kebakaran hutan dan lahan.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi