Ilustrasi. (KBR/Alex)

Ilustrasi. (KBR/Alex)

Sejumlah hotel berbintang di Pekanbaru Riau beberapa hari ini laris manis. Dari hotel bintang tiga hingga bintang lima. Bahkan ada perusahaan nasional yang memborong puluhan kamar sekaligus untuk menginap karyawannya berhari-hari.

Hotel-hotel itu kebanjiran pengunjung karena kabut asap menyelimuti Riau. Yang jadi favorit adalah yang ruangannya tertutup, tidak bisa kemasukan asap, dan punya penyejuk dan penyaring udara.

Bagi yang punya uang lebih, menginap di hotel berbintang menjadi alternatif untuk menghindari dari terpaan asap yang mengandung partikel berbahaya. Mereka juga mampu membeli masker terbaik yang bisa menangkal hampir semua partikel berbahaya dari udara.

Tapi bagi yang uangnya pas-pasan, hanya bisa terima nasib. Terpapar asap berbahaya
terus-menerus, berhari-hari. Imbauan tinggal di rumah jelas tak mempan karena mereka harus menafkahi keluarga dari luar rumah. Tak heran jika jumlah orang sakit karena asap di Riau mencapa 25 ribu orang. Paling banyak adalah korban saluran pernafasan ISPA, lalu pneumonia, asma, iritasi mata, dan iritasi kulit. Itu baru di Riau, belum daerah lain.

Mendapatkan lingkungan yang sehat adalah hak setiap warga negara. Juga untuk mendapatkan udara sehat. Itu dijamin di konstitusi kita pasal 28H. Undang-undang Hak Asasi Manusia serta Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup juga menjamin hak yang sama bagi setiap orang untuk mendapatkan lingkungan yang sehat.

Sudah sekitar sebulan warga Riau dan sekitarnya terpapar kabut asap. Dan setiap tahun bisa saja kejadian bakal terulang lagi dan lagi. Bagaimana caranya negara menjamin hak udara yang sehat itu? Bagaimana jika negara atau pemerintah daerah gagal melindungi hak asasi itu?

Lambatnya pemerintah daerah dan pusat menangani kasus kebakaran hutan dan lahan serta bencana kabut asap itu juga harus ditebus dengan meninggalnya dua anak karena sesak nafas. Muhanum Anggriawati umur 12 tahun di Riau, dan Dimas Aditya Putra umur dua tahun di Jambi. Belum lagi banyak anak dan balita lain yang terancam nyawa mereka jika asap makin tebal. Sedangkan pemerintah daerah sibuk membantah mengenai penyebab tewasnya mereka. Dimana akal sehat kita?

Udara sehat itu hak kita. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!