Penambangan pasir besi. (Foto: Antara)

Penambangan pasir besi. (Foto: Antara)

Di tengah jalan, di dekat perkebunan warga, mayat itu digeletakkan. Tengkurap. Dengan tangan terikat. Kepalanya dicangkul. Ada banyak luka bacokan di tubuhnya.


Namanya Salim. Panggilannya, Kancil. Dia adalah bagian dari petani di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur, yang menolak pertambangan pasir. Yang punya pertambangan pasir ini adalah sang kepala desa. Dia juga lah yang disinyalir mengirim preman untuk menghabisi mereka yang menolak kehadiran tambang.


Salim tewas. Sementara korban lain, Tosan, mengalami luka kritis akibat luka bacok di kepala. Ia beruntung karena sempat diselamatkan oleh warga lain. Mereka berdua berasal dari kelompok yang sama, yaitu Forum Petani Anti Tambang, yang menentang tambang karena merusak persawahan – sumber penghidupan warga desa.


Forum Petani Anti Tambang sebelumnya sempat akan menggelar aksi demonstrasi menentang penambangan. Total ada 200 petani yang akan merapat. Tapi sejak lama juga petani diintimidasi oleh kepala desa, sekaligus pemilik tambang. Salim dan Tosan jadi korban karena berkeras menolak kehadiran tambang secara terbuka.


Pada mulanya adalah pasir besi. Situs resmi Pemkab Lumajang menyebut kalau kabupaten ini punya potensi cadangan pasir besi paling luas di Indonesia. Kabupaten ini kaya akan pasir besi lantaran pernah mendapat muntahan dari Gunung Semeru, yang dibawa air sungai hingga ke laut, dengan membawa partikel zat besi. Kualitas pasir besinya pun dianggap yang terbaik di tanah air.


Daerah lain yang juga dianggap kaya akan pasir besi adalah wilayah pantai Jawa Barat. Tapi Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah setempat sudah memastikan kalau ada dampak tak ternilai yang mengikuti setiap tambang pasir besi. Itu adalah kerusakan sawah serta jalan – yang tak sebanding dengan keuntungan dari pasir besi. Sementara di Cianjur, tambang pasir besi menyebabkan ekosistem laut rusak, dan ujungnya berdampak pada jumlah tangkapan yang turun.


Yang lebih tak sebanding lagi dengan nilai pasir besi adalah nyawa manusia. Nyawa Salim.


Konflik agraria macam begini bukan barang baru, tapi bukan berarti sudah ketemu solusi yang baik untuk semuanya. Tapi apa pun alasannya, nilai ekonomi suatu hasil bumi tak pernah sebanding dengan nyawa manusia yang melayang. Apalagi Salim juga sekadar mempertahankan hidup dan penghidupannya. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!