Mencegah Tempe Jadi Makanan Impor

Jika Anda penggemar tempe atau tahu, sadarkah Anda kalau ada sedikit perubahan? Ukuran tahu tempe mulai mengecil... harganya juga lebih tinggi dibandingkan semula.

Selasa, 01 Sep 2015 10:00 WIB

Kedelai impor. (Musyafa/KBR)

Kedelai impor. (Musyafa/KBR)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Jika Anda penggemar tempe atau tahu, sadarkah Anda kalau ada sedikit perubahan? Ukuran tahu tempe mulai mengecil... harganya juga lebih tinggi dibandingkan semula.

Sadar atau tidak, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ternyata berpengaruh terhadap industri tahu tempe dalam negeri. Sejumlah usaha tahu tempe kabarnya sudah gulung tikar, atau mem-PHK karyawan. Penyebabnya, ongkos produksi naik akibat harga kedelai impor yang makin mahal. Harga kedelai impor saat ini naik sekitar Rp 800 rupiah, menjadi Rp 7 ribu per kilogram. Sedangkan harga kedelai lokal juga ikut naik Rp500 rupiah, menjadi Rp5 ribu per kilogram.

Sampai saat ini kebutuhan kedelai dalam negeri memang sebagian besar masih mengandalkan impor: sekitar 70 persen. Kebutuhan kedelai tiap tahun sekitar 2,5 juta ton dan hanya 1 juta ton yang bisa dipasok dari petani lokal. Dalam tiga tahun ke depan, diperkirakan kedelai impor masih akan menjadi andalan para perajin tahu tempe.

Presiden Joko Widodo sudah memberi batas waktu kepada Kementerian Pertanian untuk mencapai swasembada pangan, terutama beras, jagung dan kedelai, dalam waktu tiga tahun. Atau sampai 2018. Sayangnya, sampai saat ini, pemerintah masih fokus pada padi---sedangkan jagung dan kedelai belum begitu mendapat perhatian. Kementerian Pertanian menyatakan ingin menyelesaikan satu demi satu. Padi dulu, baru urus jagung dan kedelai.

Masalahnya, banyak petani malas menanam kedelai. Harga pokok penjualan masih dianggap kurang merangsang petani untuk melirik tanaman ini. Keuntungan petani sedikit. Kalau sudah begini, maka lahan pertanian kedelai bakal makin berkurang---berganti tanaman lain atau sekalian alih fungsi. Ini yang harus ditangani pemerintah.

Selain itu, kualitas kedelai lokal juga selama ini juga nomor dua, khususnya bagi industri tahu tempe. Kedelai lokal memiliki kadar air tinggi, dan ini tidak disukai para perajin tempe. Para peneliti harus turun tangan membuat bibit unggul kedelai yang murah.

Tempe yang sering tersedia di meja makan rumah-rumah di tanah air jangan sampai berubah menjadi setengah impor, karena bahan bakunya dari luar negeri. Dan nasibnya bergantung pada kuat lemahnya rupiah terhadap dolar.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.