Kawanan gajah. (Garnis/KBR)

Kawanan gajah. (Garnis/KBR)

Indonesia nampaknya semakin tidak ramah bagi satwa liar dan dilindungi. Contohnya banyak. Ada yang memanggang satwa mirip orangutan di Kalimantan Tengah. Lalu bulan ini kita disodori berita-berita kekejaman manusia yang membantai beruang madu di Balikpapan serta meracun gajah Sumatera bernama Yongki di Lampung.

Semasa hidupnya, Yongki merupakan gajah liar yang kerap merusak kebun warga di Lampung Barat. Ia lalu dilatih sampai jinak, dan secara heroik, menjadi sahabat manusia. Selama lebih dari lima tahun Yongki membantu menghalau gajah-gajah liar dari permukiman warga. Bulan ini, perjalanan Yongki berakhir di usia 35 tahun ketika ia diracun dan gadingnya diambil paksa. Ia mati di rumahnya sendiri, di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Lampung.
 
Sepasang gading Yongki barangkali akan berakhir di lapak-lapak penjualan online. Meski gajah dan gadingnya merupakan satwa dilindungi yang dilarang keras untuk diburu dan diperdagangkan, praktik perburuan gading gajah terus terjadi. Bahkan, produk-produk yang terbuat dari gading gajah dijual bebas.
 
Ketika Anda sedang berselancar di internet, mungkin Anda sempat melihat iklan produk-produk yang terbuat dari gading gajah dijual di situs-situs jual beli online, seperti bukalapak, tokopedia, dan lain-lain. Produknya bisa berupa sisir, cincin, giwang, bros, hingga pipa rokok.

Seorang dokter hewan bernama Wisnu Wardana kerap diminta membantu mengotopsi gajah mati. Dan ia bersedih karena Yongki mati, juga karena gading-gading gajah diperjualbelikan bebas di lapak online. Ia pun membuat petisi menuntut agar penjualan produk-produk dari gading gajah dihentikan.

Dunia menangis ketika media internasional memberitakan nasib tragis Yongki. Tapi jika kita tidak bergerak menghentikan perdagangan produk gading gajah, maka bakal ada gajah-gajah lain menyusul bernasib seperti Yongki. Dan kita akan menjadi munafik sejati ketika terdiam melihat cincin gading gajah atau giwang gading gajah berseliweran dijajakan di dunia maya. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!