Dalam Penantian

Suciwati sudah menunggu, tapi belum juga mendapatkan jawaban. Sebelas tahun jelas bukan waktu yang sebentar untuk mengetahui mengapa Munir, suaminya, harus dibunuh dan siapa pembunuhnya.

Senin, 07 Sep 2015 09:00 WIB

Foto: Antara

Foto: Antara

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Suciwati sudah menunggu, tapi belum juga mendapatkan jawaban. Sebelas tahun jelas bukan waktu yang sebentar untuk mengetahui mengapa Munir, suaminya, harus dibunuh dan siapa pembunuhnya. Bukan hal yang mudah juga bagi Suciwati, dulu atau sekarang, menjelaskan soal ini kepada dua anak mereka: Diva dan Alif.


Menanti kejelasan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ketidakpastian terus menghantui. Tidak pasti akan niat negara menyelesaikan kasus ini. Tidak pasti akan keselamatan orang-orang yang membela nasib rakyat. Tidak pasti akan hukum yang harusnya memberi kepastian.


Tahun demi tahun, kita habiskan untuk menunggu. Sebelas tahun untuk kasus pembunuhan Munir. Lima belas tahun hilangnya penyair Wiji Thukul. Sembilan belas tahun untuk kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas, Udin. Dua puluh dua tahun untuk pembunuhan buruh Marsinah. Tiga puluh satu tahun kasus Tanjung Priok. Dan bulan ini kita juga memperingati 50 tahun kasus pembantaian massal 1965.


Waktu, kata orang bijak, adalah sesuatu yang paling berharga. Tapi tahun demi tahun justru terbuang untuk menanti. Menunggu kejelasan. Keluarga Munir, Wiji Thukul, Udin, Marsinah dan yang lainnya hidup di Indonesia yang punya sistem hukum, tapi tak punya kepastian hukum. Padahal hukum adalah tatanan, sistem yang menempatkan setiap warga negara dengan perlakuan sama.


Kata Munir, punya rasa takut itu wajar. “Tapi Indonesia lama tidak maju karena orangnya takut melulu,” kata dia. Sampai saat ini keluarga korban membuktikan diri kalau mereka tidak takut bertanya dan mempertanyakan sikap negara terhadap kasus yang mereka alami. Seharusnya rasa berani ini juga menular ke kita semua. Karena apa yang dialami oleh Munir, Udin, Wiji Tukul dan lainnya, bisa juga dialami oleh kita.


Dalam penantian itu pula, muncul generasi baru. Merekalah yang sedianya meneruskan perjuangan. Juga meneruskan nilai-nilai yang diyakini Munir, Udin, Marsinah dan lainnya. Bahwa takut itu perlu dilawan, bahwa berani itu mesti siap menghadapi resiko.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi