struktur menteri, jokowi-jk, agraria, maritim

Dari sekian banyak berita negatif tentang negeri ini, beberapa di
antaranya ironi. Katanya negeri agraris, tapi kok langganan impor
beras. Sebutannya sebagai negara kepulauan atau maritim, tapi bahkan
ikan dan garam pun mesti impor. Sedikitnya itu yang masih menghantui
ketahanan pangan kita saat ini.

Di darat, yang sering kita dengar, krisis pangan akibat gagal panen
karena hujan dan kemarau datang tak menentu. Juga hama yang datang
silih berganti, nyaris tak terbasmi. Belum lagi pupuk, yang jika
pun ada, sering tak terbeli oleh petani.

Di laut, teknologi kebanyakan perahu milik nelayan terlalu rendah,
yang jika menghadapi ombak setinggi 1 – 2 meter saja sudah tak
berdaya. Terkadang, bahkan cuaca tenang pun tak bisa melaut karena
mesin mati tak ada bahan bakar solar yang bisa mereka beli.

Kemarin, Presiden Terpilih Joko Widodo mengumumkan struktur
kabinetnya. Di antaranya ada tiga nama kementerian baru, salah satunya
Kementerian Agraria. Kemudian, ada juga beberapa kementerian dengan
nama baru, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, berubah menjadi
Kementerian Kemaritiman.  Mendengar ada kata “agraria” dan
“kemaritiman,” benak kita sontak bertanya, sekaligus juga berharap,
itu niat untuk memperbaiki kehidupan petani dan nelayan kita.

Secara semantik, istilah “agraria” lebih mewakili kenyataan petani
kita sekarang. Saat ini, Kementerian Pertanian, sesuai istilahnya,
hanya menempatkan petani dalam konteks bagaimana bisa mengusahakan
tanah untuk kegiatan tanam menanam. Padahal, apa yang dihadapi petani
lebih dari sekadar bertanam. Lahan yang mereka pakai bercocok tanam secara
turun temurun, semakin banyak yang tiba-tiba mempersoalkan
kepemilikannya.

Begitu pula dengan istilah “Kemaritiman.” Dari maknanya, niat untuk
melihat laut lebih dari sekadar sumber daya air asin dan ikannya, tapi
juga gugusan belasan ribu pulau sebagai bagian yang utuh dari wilayah
negara, lebih sesuai dengan kenyataan.

Memang ada ungkapan “apalah arti sebuah nama.” Tapi di sini kita
berharap betul, kemunculan dua kosa kata itu bukan asal. Sebagus apa
pun sebuah nama, akhirnya memang tak akan berarti apa-apa jika tak
bisa menunjukkan perbedaan yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!