Foto: Antara

Foto: Antara

Sampai kapan seorang pemimpin bernama Susilo Bambang Yudhoyono akan selalu menghindar dari tanggung jawab? Dan mulai belajar jujur. Padahal ksatria tidaknya pemimpin itu dinilai, salah satunya, seberapa berani ia bertanggung jawab dan memiliki sifat jujur. Karena peran muka dua telanjur diambil oleh Dorna. Bahkan Duryudana yang kalah mengenaskan tetaplah dikenang sebagai ksatria.

Hampir sepanjang dua periode kepemimpinannya kita menyaksikan berbagai drama memalukan dari tokoh yang dipilih oleh rakyat Indonesia itu. Anda tentu masih ingat, misalnya, bagaimana ia mencium knalpot kendaraan yang ia klaim tak membuang karbon. Prototipe kendaraan itu hendak dipamerkan di hadapan partisipan konferensi perubahan iklim sedunia. Rencana itu gagal. Ia telah mengabaikan pendapat para ahli dalam negeri dari BPPT dan akhirnya gagal.

Di periode pertama kepemimpinan ia mencabut subsidi BBM dengan alasan anggaran berdarah, tahun berikutnya ia menaikkan gaji pejabat dan pegawai dengan alasan ada surplus dari jual minyak. Yudhoyono juga gemar curhat mengenai ancaman kepada dirinya. Mau dibom teroris lah, mau ditembak di muka lah.

Tapi ia cuek ketika gagal menepati janji akan menangkap pembunuh Munir. Alasannya, ini yang tak tahu malu, tak mau intervensi masalah hukum. Lah apa ia lupa bahwa polisi dan jaksa agung itu anak buahnya?

Ia sangat reaktif, sampai melapor ke polisi, bila keluarganya merasa dirugikan. Tapi ia bergeming dan beralasan sebagai seorang demokrat, harus menghargai proses hukum, ketika yang dituntut adalah ketegasannya pada kasus hak azasi manusia rakyat Indonesia.

Barangkali ia adalah suami dan ayah yang baik, tapi jelas sekali, Yudhoyono bukan pemimpin yang menarik dijadikan teladan.(Baca: Setelah #ShameOnYouSBY, Muncul Gerakan #UnfollowSBY)

Bayangkan, menjadi jujur saja sulitnya bukan main. Ia berkeras tak menyuruh anak buahnya di DPR walk out saat sidang paripurna RUU Pilkada, dan terus menerus menebar pernyataan bahwa ia menyayangkan RUU itu lolos.

Mula-mula berbagai laku memalukan Yudhoyono mengundang lucu. Tapi lama-lama menjengkelkan. Ia hendak menjadi Sekjen PBB atau menjadi tokoh global sekelas Bill Clinton lah.

Entah apa yang bakal terjadi bila kelak ia jadi menjadi pemimpin lembaga lingkungan hidup global yang berbasis di Korea Selatan. Mungkin kita akan merasa lucu lagi. Ketimbang jengkel terus menerus.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!