laut, tol laut, jokowi, bahari, maritim

"Nenek moyangku, orang pelaut.." Lagu ini mungkin Anda sering nyanyikan dulu waktu kecil. Atau, ini mungkin jadi salah satu hafalan Anda saat sekolah: Indonesia adalah negara bahari dengan 70% wilayahnya terdiri dari laut dan 30% daratan.

Bagi Indonesia Negeri bahari? tak ubahnya sebuah mantra. Diucapkan, tapi ya sudah, berhenti di situ. Pembangunan yang terjadi di negara ini tidak menunjukkan keberpihakan pada lautan. Pembangunan selalu difokuskan ke darat, yang hanya 30% dari total wilayah Indonesia.

Contoh sederhana: kecelakaan kapal yang terus menerus terjadi tanpa perbaikan berarti. Padahal bagi banyak orang di daerah terpencil, laut adalah satu-satunya jalur transportasi yang tersedia. Sekali jalan pun, kapal bisa mengangkut sampai ratusan orangTapi keselamatan transportasi di laut tak kunjung diperbaiki dan akibatnya korban masih saja berjatuhan.

Setiap pekan terakhir September, kita memperingati Hari Maritim Sedunia. Harapan untuk mendongkrak potensi maritim Indonesia disuarakan oleh Presiden terpilih Joko Widodo. Dalam berbagai pemaparan soal visi misi, pembangunan maritim menjadi salah satu "nilai jual" Jokowi dalam berbagai kampanye. Ada konsep tol laut, menjadikan laut sebagai fokus pembangunan dan sebagainya yang ditawarkan oleh Jokowi. Ini seperti mengingatkan lagi akan kejayaan masa lalu Indonesia sebagai negara bahari.(Baca: Bahas Tol Laut, Tim Transisi Jokowi-JK Bakal Temui Kemenhub)

Apakah mungkin? Jelas sangat mungkin. Perlu diingatkan lagi kalau wilayah laut Indonesia mencapai 70%. Dan potensinya luar biasa banyak. Tak hanya untuk perhubungan dan transportasi, tapi ada potensi energi terbarukan yang tersembunyi di sana. Ombak dan angin, misalnya, belum termanfaatkan secara optimal padahal jumlahnya tersedia tanpa batasan.

Belum lagi potensi di dalam laut: ikan, rumput laut, terumbu karang, keindahan bawah laut. Semua bisa menggerakan ekonomi daerah juga nasional jika dan hanya jika fokus pembangunan dialihkan ke lautan. Dengan begitu, sumber daya pemerintahan juga bisa diarahkan ke sana, seperti juga penelitian, pengembangan sumber daya manusia dan lainnya.(Baca: Jokowi Serukan Penyelamatan Kekayaan Laut Indonesia)

JIka pembangunan maritim betul-betul jadi fokus pembangunan Indonesia, maka tidak hanya nenek moyang kita yang orang pelaut, tapi anak-anak muda dan generasi penerus bangsa ini bisa jadi orang pelaut. Masa depan kita, ada di laut.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!