Taman Bermain

Semestinya yang dilakukan terlebih dahulu adalah menyelidiki motif pengurus sekolah memakaikan cadar dan menenteng replika senapan otomatis, kepada anak prasekolah.

Selasa, 21 Agus 2018 01:53 WIB

Ilustrasi: Dirampasnya keceriaan anak

Ilustrasi: Dirampasnya hak keceriaan anak

Kepolisian Probolinggo, Jawa Timur tengah mencari pengunggah pertama kali video viral arak-arakan murid TK dalam  pawai budaya pada Sabtu lalu. Kapolres Alfian Nurrizal menduga pengunggah video itu punya tujuan tertentu. Dia menengarai, pengunggah video bisa saja punya tujuan mencemarkan nama baik, menghasut,  bahkan menebar isu SARA.

Kekuatiran Pak Polisi bisa jadi benar. Tapi semestinya yang dilakukan terlebih dahulu adalah menyelidiki motif pengurus sekolah memakaikan cadar dan menenteng replika senapan otomatis, kepada anak prasekolah. Dunia mereka adalah dunia bermain. Tak sepatutnya sedari dini mencemari dengan simbol-simbol kekerasan seperti itu; simbol yang bisa dimaknai sebagai propaganda proterorisme. 

Betul, pengurus TK Kartika sudah meminta maaf dan menyatakan tak ada maksud mengajarkan kekerasan. Penggunaan atribut tersebut dilakukan untuk berhemat lantaran barang-barang itu tersedia di gudang sekolah. Tentu ini bisa diartikan atribut ini sebelumnya pernah digunakan kanak-kanak tersebut. 

Jadi, daripada buru-buru mencari penggunggah video, kepolisian mesti cermat mengusut kasus ini. Apalagi, belum lama aksi terorisme di provinsi itu melibatkan anak-anak dalam rangkaian bom bunuh diri yang menargetkan rumah ibadah dan markas polisi. Jangan sampai taman yang paling indah itu, tak lagi menjadi tempat bermain dan berteman banyak, tapi justru jadi tempat pembibitan kader teroris yang siap meledakkan diri.

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".