Paspor Arcandra

Di laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Arcandra Tahar menjawab: saya adalah Warga Negara Indonesia, bukan warga Amerika Serikat.

Senin, 15 Agus 2016 10:00 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. (Antara)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. (Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Di laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Arcandra Tahar menjawab: saya adalah Warga Negara Indonesia, bukan warga Amerika Serikat. Tepatnya, Arcandra menjawab begini: “Saya orang Padang asli.”

Apakah jawaban itu menjawab kegaduhan yang terjadi akhir pekan lalu? Berbagai percakapan di media sosial ramai mempertanyakan status kewarganegaraan Arcandra Tahir yang 20 tahunan tinggal di Amerika Serikat ini. Apakah dia WNI atau sudah WNA? Kabar yang beredar, Arcandra sudah menjadi WNA lewat proses naturalisasi. Sementara Menteri Sekretaris Negara Pratikno memastikan kalau Arcandra masih memegang paspor Indonesia yang masih berlaku sampai 2017. Tapi bahkan Pratikno pun masih menyebut kalau soal ini akan ditanyakan kepada otoritas yang bisa menjelaskan soal ini.

Kenapa juga mesti gaduh mempersoalkan kewarganegaraan Arcandra, ketika Arcandra ini bak bintang gemilang yang bersedia kembali mengabdi kepada negara, melepas gaji tinggi dari negeri seberang? Perdebatan memang bukan di soal kecakapan Arcandra. Tapi soal apakah betul dia pernah ke Indonesia dengan paspor Amerika atau tidak.

Sepintas, persoalan ini ini tampak sepele – kalah ‘gagah’ dibandingkan isu ‘pengabdian pada negara’. Tapi sesungguhnya, persoalan administrasi hukum ini soal dasar: kepatuhan terhadap aturan yang masih berlaku. Dan nyatanya, Undang-undang Kewarganegaraan masih berlaku. Begitu juga soal Indoensia yang sejauh ini tidak memberlakukan dwikewarganegaraan.

Pemerintah sebaiknya segera memperjelas secara terbuka soal status kewarganegaraan Arcandra ini. Kalau tidak, lagi-lagi kabinet akan gaduh untuk hal-hal yang bukan jadi inti pekerjaan. Jika betul Arcandra pindah kewarganegaraan, itu adalah haknya – dan tak perlu dikaitkan dengan cinta atau tidaknya dengan Indonesia. Yang jelas, ini membawa konsekuensi politik bagi Pemerintah.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau