Koordinator Kontras Haris Azhar. (Facebook Haris Azhar)

Koordinator Kontras Haris Azhar. (Facebook Haris Azhar)


Apa yang dikhawatirkan, akhirnya terjadi juga. Koordinator Kontras, Haris Azhar yang membuka borok keterlibatan “oknum” aparat dalam peredaran narkoba, terancam dipidanakan. Kemarin, Mabes Polri menyebut status Haris masih sebagai terlapor. Tapi, siapa bisa mencegah bakal naik jadi tersangka. Dan sejak itu pula, tagar #SayaPercayaKontras, digaungkan di media sosial Twitter.

Beragam komentar, dukungan, hingga cercaan pada tiga lembaga; Polri, Badan Narkotika Nasional, dan TNI, dilontarkan. Hampir semuanya mempertanyakan sikap polisi yang malah membolak-balikkan persoalan dan membebankan pembuktian ada tidaknya keterlibatan “oknum” aparat itu kepada sang pembocor. Padahal, untuk membuktikan itu, sesungguhnya adalah tugas mereka –menelusuri rantai peredaran narkoba di internal lembaga pemerintah itu.

Sejak Haris Azhar memuat kesaksian Freddy Budiman –terpidana narkoba kelas kakap ke jejaring media sosial, Kepolisian, BNN, dan TNI, tak berbuat apa-apa. Mereka bahkan tak menemui Haris untuk mendalami kesaksian Freddy. Tiga lembaga itu, hanya sesumbar pada publik tengah melakukan pemeriksaan internal. Tapi bagaimana prosesnya dan sejauhmana pemeriksaan itu, tak dibuka. Barulah ketahuan, ketiga lembaga itu bertemu malam-malam dan sepakat melaporkan Haris Azhar.

Makin menggemaskan, karena Kapolri Tito Karnavian yang dikenal galak pada kelompok teroris, berani mengatakan pengakuan Freddy pada Haris adalah bohong belaka, dengan hanya berdasar pada pemeriksaan pledoi dan keterangan bekas pengacara Freddy. Dan publik hanya menganga mendengar itu. Seakan tak ada usaha maksimal Polri untuk membongkar beking narkoba Freddy.

Kalau sudah begini, Polri jangan sensi kalau disebut kerap mengkriminalisasi. Dan publik harus mendorong supaya TNI, Polri dan BNN segera mengerjakan PR internal mereka.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!