merah putih

merah putih


Pagi ini mestinya Gloria Natapradja Hamel dan ArcandraTahar mestinya hadir mengikuti upacara pengibaran sang saka merah putih Gloria sebagai petugas Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), dan Arcandra sebagai menteri kabinet kerja jilid 2. Tapi sepertinya keduanya tak akan bisa mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-71.

Keduanya terganjal masalah serupa: urusan kewarganegaraan ganda. Gloria murid SMA di Depok Jawa Barat itu gagal dikukuhkan sebagai anggota Paskibraka. Sedangkan Arcandra jadi menteri dengan jabatan tersingkat, lantaran hanya 20 hari setelah dilantik lantas dicopot dari jabatannya.

Kedua kasus itu jadi perbincangan hangat di media sosial. Untuk kasus Gloria bahkan muncul petisi yang dalam waktu tak sampai 20 jam telah mengumpulkan lebih 20 ribu dukungan. Petisi yang ditujukan pada Presiden Jokowi itu meminta agar Gloria diizinkan menjalankan tugas sebagai anggota Paskibraka. Pengusung petisi menyertakan sejumlah argumen menyangkut kewarganegaraan Gloria. Termasuk juga surat pernyataan dari Gloria yang menyatakan memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia. 

Gloria lahir dari ibu warga Indonesia dan ayah warga Prancis. Gloria lahir dan bersekolah dari TK hingga SMA di negeri ini. Sayang aturan memang tak berpihak padanya.Perundangan terkait Kewarganegaraan yang terbit pada 10 tahun silam mengharuskan anak yang lahir dari perkawinan campuran untuk mendaftarkan kewarganegaraan.

Gloria tentu tak bisa dipersalahkan dalam urusan ini. Satgas Perlindungan anak menilai kelalaian dan kesalahan ada pada Kementerian Pemuda dan Olahraga. Alasannya rekrutmen, seleksi hingga pengurusan paspor dilakukan oleh Kemenpora. Menjadi kewajiban negara untuk menghormati dan melindung hak anak dan warganya. Putusan kadung terjadi, selanjutnya tugas pemerintah memastikan Gloria dan juga Arcandra tetap memiliki merah putih di hati dan di administrasi. Merdeka.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!