Pasca kerusuhan di Tanjung Balai. (Antara)

Pasca kerusuhan di Tanjung Balai. (Antara)



Sebatas mana suara yang keras dianggap mengganggu?

Bagi seorang warga Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara, suara toa masjid dianggap mengganggu. Rumahnya kebetulan berhadapan langsung dengan masjid. Ia lantas mendatangi mesjid Al Maksum dan meminta supaya pengeras suaranya dikecilkan.

Apakah tindakan ini salah? Tentu saja tidak. Kementerian Agama sudah membuat aturan soal suara dari mesjid ini sejak 38 tahun lalu. Salah satu poinnya adalah menghindarkan kejengkelan dari orang di luar mesjid. Jusuf Kalla beberapa kali mengangkat persoalan kerasnya suara toa ini. Tapi protes soal kerasnya toa masjid kali ini, berujung pada pembakaran dua vihara dan lima klenteng di sana.

Protes dari warga, yang kebetulan beretnis Tionghoa ini, lantas dibungkus dengan kebencian atas nama perbedaan SARA, lantas disebar di media sosial. Akibatnya, kerusuhan yang terjadi pada Jumat malam pekan lalu, baru bisa diredakan dini hari keesokan harinya.

Ini jelas salah paham yang berbahaya. Kita belajar dari Ambon kalau konflik antar agama bisa dimulai karena perkelahian dua anak muda yang berbeda agama. Konflik Sampit dipicu program transmigrasi yang memunculkan persaingan antar etnis.  Sementara agama dan etnis jadi pemicu konflik di Poso. Dan dari Tanjung Balai kita melihat hal serupa terjadi.

Yang bisa jadi bensin tambahan yang memicu kerusuhan di Tanjung Balai adalah media sosial. Ujaran kebencian bisa begitu mudah ditulis, diunggah atau dibagikan kepada khalayak yang lebih luas lagi. Informasi jadi kabur karena sudah dibagikan dari tangan kedua dan seterusnya – yang belum tentu disertai keinginan untuk memastikan apakah informasi yang dibagikan itu betul atau tidak. Di sinilah ujaran kebencian bisa jadi tindakan kekerasan yang menimbulkan korban.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Dalam satu jengkal wilayah di tanah air, sangat mungkin ada beragam suku, etnis, agama yang tinggal bersamaan. Protes atas kerasnya suara toa semestinya tak dilihat secara negatif, tapi justru sebagai pengingat akan perbedaan itu.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!