Ilustrasi LGBT

Ilustrasi LGBT

Malam itu Kanza Vina berlinang air mata di depan podium. Ia, mewakili Forum LGBTIQ, tengah berdiri di depan untuk menerima Tasrif Award. Ini adalah penghargaan dari Aliansi Jurnalis Independen untuk mereka yang gigih menegakkan kebebasan berekspresi. Ia mengenang masa kecilnya di Bengkulu, ketika ia menjadi bahan ejekan dan sekolah jadi tempat yang begitu mengerikan bagi dia. Kanza lahir sebagai laki-laki, tapi merasa seperti perempuan. Tak hanya sesama teman, tapi juga guru ikut melecehkannya. Ia pun pernah terjebak prostitusi anak lantaran tak diterima lingkungannya.

Abhipraya Ardiansyah Muchtar, yang juga bicara di depan podium, juga seringkali merasa ketakutan dan terancam. Abhipraya lahir sebagai perempuan, tapi merasa sebagai laki-laki. Bagi Kanza dan Abhipraya, hidup menjadi diri mereka sendiri bukan sesuatu yang mudah. Apalagi sejak awal tahun, isu LGBT naik ke permukaan lagi, ramai dibicarakan lagi, dan selalu memojokkan mereka. Terakhir, Guru Besar IPB, Euis Sunarti dan 11 koleganya, meminta supaya LGBT dipenjara. Tak tanggung-tanggung: maksimal 5 tahun. Permohonan ini diajukan ke Mahkamah Konstitusi dan proses masih terus berlangsung.

Ancaman yang dihadapi kelompok LGBT tak hanya di ruang sidang. Yang lebih nyata justru yang dihadapi sehari-hari. Di jalanan. Di ruang-ruang publik. Begitu pulang seusai menerima Tasrif Award pun, kelompok LGBTIQ yang tengah merayakan penghargaan ini harus menghadapi serbuan 50an orang. Mereka datang dari Kecamatan Menteng, Satpol PP, dan Dinas Sosial DKI Jakarta. Kelompok LGBT yang tengah berada bersama teman-teman waria ini diciduk lantaran dianggap mengganggu ketertiban umum.

Ironis, tapi begitulah kenyataan yang harus mereka hadapi. Forum LGBTIQ yang memperoleh penghargaan karena memperjuangkan kebebasan berekspresi, justru dianggap sebagai sampah. Sebagai orang yang salah, mesti dihukum, dan selalu dipojokkan. Bagi mereka, Indonesia tak lagi menjadi negara yang demokratis – apalagi pluralis. Padahal mereka punya hak yang sama besarnya dengan siapa pun yang ada di Indonesia. Hak atas hidup, hak atas penghormatan, hak untuk menjadi diri sendiri.

Padahal semestinya perjuangan atas hak ini tak perlu mereka lakukan karena itu sudah dijamin lewat konstitusi kita. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!