Kebakaran hutan dan lahan di Riau. (Antara)

Kebakaran hutan dan lahan di Riau. (Antara)


Sejak pekan lalu sebanyak 5 provinsi telah menetapkan status siaga darurat menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah bersiaga lantaran pola titik panas karhutla yang tinggi di daerah itu. Di wilayah itu pada September hingga Oktober jadi puncak berlangsungnya karhutla.

Mari kita tengok temuan organisasi lingkungan Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari). Dari hampir 350 (web: 346) titik panas yang terpantau pada sepekan terakhir sebagian besar berada di lahan korporasi. Sebanyak lebih 100 (web: 107) titik panas berada di lahan konsesi hutan tanaman industri (HTI) bahkan 199 titik berada di areal moratorium. Menurut Jikalahari titik panas itu mayoritas berada di lahan perusahaan-perusahaan besar yang jadi langganan karhutla. 

Organisasi lingkungan itu sangsi akan ada penegakan hukum bagi korporasi yang lahannya terjadi karhutla. Pengalaman pengusutan pidana yang dilakukan kepolisian pada karhutla tahun lalu, dari 18 kasus hanya 2 yang melaju hingga pengadilan. Sebanyak 1 kasus masih dalam penyelidikan dan sebanyak 15 korporasi alih-alih mendapat hukuman, malah dihentikan penyidikannya alias mendapat Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Kepolisian berdalih kasus dihentikan lantaran lahan sedang bersengketa dan beberapa perusahaan izinnya telah dicabut. 

Kebalikannya dari kepolisian, pengusutan kasus Karhutla yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberi harapan bagi penegakan hukum lingkungan.Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan PT National Sago Prima (NSP) bersalah atas kebakaran hutan seluas 3 ribu hektare konsesinya di Kabupaten Meranti, Riau. Pengadilan memutuskan anak perusahaan Sampoerna Agro itu membayar ganti rugi lebih 1 triliun rupiah (web: 1,07 t). 

Hakim menilai perusahaan harus bertanggungjawab atas kebakaran yang terjadi di lokasinya baik disebabkan oleh perusahaan atau tidak. Itu sebab para aktivis lingkungan mendesak KLHK mengambil alih 15 kasus karhutla yang mandek di kepolisian Riau. Hukuman badan dan materi yang berat diharapkan memberi efek jera bagi siapapun pelaku pembakaran hutan dan lahan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!