Masyarakat di Pulau Merah menunjukan lumpur. (KBR/Hermawan)

Masyarakat di Pulau Merah menunjukan lumpur. (KBR/Hermawan)

Ratusan Nelayan Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi Jawa Timur, selama sepekan lebih tidak bisa melaut. Penyebabnya laut di wilayah pesisir Pancer tercemar lumpur. Ketua Rukun Nelayan Pancer, Khusni Tamrin mengatakan, hasil tangkapan ikan turun drastis, terumbu karang juga rusak.

Nelayan menuding aktivitas PT Bumi Suksesindo sebagai penyebabnya. Saat ini perusahaan tengah membangun infrastruktur guna mendukung aktivitas penambangan di kawasan gunung Tumpang Pitu. 
Keluhan nelayan ini muncul tak lama setelah lumpur mencemari pantai Pulau Merah pertengahan Agustus ini. Pariwisata ikut lumpuh, begitu juga 300 hektar ladang jagung yang gagal panen.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas lantas mengantar sendiri surat teguran tertulis kepada perusahaan. Perusahaan didesak segera menyelesaikan pembangunan enam dam sesuai dokumen Analisis dampak lingkungan, Amdal. Perusahaan baru menyelesaikan pembangunan tiga dam dari enam yang dijanjikan. Itu sebab ketika hujan deras, lumpur dan sampah terbawa hingga ke hilir, termasuk ke Sungai Katak hingga Pantai Pulau Merah lanjut ke laut. Perusahaan menyanggupi permintaan itu dalam waktu tiga bulan.

Pulau Merah memang mulai terlihat jernih diikuti beberapa wisatawan asing yang sudah kembali melakukan surfing di sana. PT Bumi Suksesindo mengaku telah  menyedot dan mengeruk lumpur  termasuk  memasang jaring penahan lumpur di Sungai Katak.

Apakah lantas persoalan selesai? Ingat, dampak sudah mulai terasa bahkan sebelum pertambangan dimulai. Nelayan Pancer tetap resah: bagaimana kalau dampak lebih parah kelak? Terakhir, keresahan sudah disampaikan pada November 2015 lalu lewat berbagai aksi yang sempat berujung pada kekerasan. Jangan lupa, Sang Bupati pula lah yang minta penurunan status hutan lindung di Tumpang Pitu, menjadi hutan produksi. Permintaan dikabulkan oleh Menteri Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan. Inilah yang memuluskan jalan perusahaan tambang di sana.

Belum lagi penambangan dimulai, banjir lumpur sudah menyapa. Sedikit demi sedikit, dampak mulai terasa. Perpaduan antara musim hujan yang segera tiba dan gunung yang gundul bukan pertanda baik. Pemerintah harus mulai bertindak. Jangan menunggu bencana tiba dulu. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!