Freddy Budiman. (KBR/Muhamad Ridlo)

Freddy Budiman. (KBR/Muhamad Ridlo)



Akhir pekan lalu Kejaksaan Agung mengeksekusi empat orang terpidana mati kasus narkotika. Salah satunya Freddy Budiman, gembong narkotika kelas kakap yang sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis haram itu. Nasib Freddy akhirnya berakhir di depan regu tembak, di tengah kecaman aktivis hak asasi manusia. 

Eksekusi Freddy Budiman meramaikan media massa, termasuk heboh pengakuannya soal uang suap ratusan miliar rupiah bagi pejabat di Badan Narkotika Nasional BNN dan Mabes Polri. Suap itu untuk memperlicin agar Freddy leluasa memasok narkoba dari luar negeri.

Pengakuan Freddy itu disampaikan Haris Azhar, Koordinator LSM Kontras yang menemuinya pada 2014 lalu. Kepada Haris Azhar, Freddy membeberkan banyak hal. Mulai dari suap kepada pejabat yang nilainya lebih dari Rp500 miliar, hingga adanya upaya dari pejabat BNN menekan Kepala Lapas Nusakambangan agar mengendorkan pengawasan terhadap Freddy, hingga kisah Freddy melarikan diri dari Nusakambangan atas bantuan dari orang BNN.

Pengakuan Freddy Budiman itu bisa jadi benar, bisa tidak, atau benar sebagian. Apa yang disampaikan Haris Azhar tentu tidak bisa dikonfirmasi ke Freddy Budiman. Namun, informasi ini mestinya bisa jadi bahan penyelidikan aparat. Itu bakal jadi warisan Freddy yang menunggu diklarifikasi, diselidiki dan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berwenang. 

Namun tampaknya pengakuan Freddy Budiman seperti bom asap. Mengepul sebentar lalu hilang. Belum ada tanda-tanda pengakuan itu menjadi hal serius yang harus ditindaklanjuti oleh aparat hukum, terutama Mabes Polri dan BNN sendiri. Dua instansi itu hanya mengatakan akan mendalami pengakuan Freddy. Pihak Istana Negara sudah dilapori, namun tidak ada respon positif. Sementara Kementerian Hukum dan HAM juga belum ada suara untuk melindungi atau meminta keterangan dari eks Kepala Lapas Nusakambangan yang menjadi saksi kunci pertemuan antara Freddy Budiman dan Haris Azhar.

BNN sudah mengakui ada anggota BNN yang terlibat dalam jaringan narkotika. Begitu juga Mabes Polri. Jika negara serius hendak memerangi sindikat narkoba, maka tidak ada alasan bagi aparat hukum untuk menganggap main-main warisan pengakuan Freddy Budiman itu.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!