Foto: Kemendagri

Foto: Kemendagri

Kemarin adalah hari pertama perpanjangan pendaftaran pemilihan kepala daerah. Dan menurut laporan dari KPU, belum ada tanda-tanda ada bakal calon kepala daerah yang mendaftarkan diri.

Ada tujuh daerah yang memperpanjang masa pendaftaran bakal calon kepala daerah. Sebab menurut syarat dari KPU, mesti ada minimal dua calon – sementara ketujuh tempat itu tak memenuhi syarat. Ketujuh daerah itu adalah Kabupaten Tasikmalaya, Kota Surabaya, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan, Kota Matarm, Kota Samarinda serta Kaupaten Timor Tengah Utara di NTT.

Waktu yang tersisa tinggal sampai besok sore. Dan tanpa calon penanding, opsi yang disediakan KPU adalah menunda Pilkada hingga 2017.

Menunda Pilkada adalah sebuah kerugian besar dari daerah yang bersangkutan. Kekosongan jabatan kepala daerah tentu akan berpengaruh besar terhadap proses pembangunan yang berjalan. Peran pejabat kepala daerah ini penting untuk kebijakan strategis pembangunan. Tanpa itu, kehidupan mungkin akan berjalan baik-baik saja, tapi tak bakal ada perencanaan matang atau capaian penting yang bisa ditorehkan daerah tersebut. Ibarat anak ayam tanpa induknya.

Menunda Pilkada juga tak serta merta menyelesaikan persoalan. Bagaimana kalau setelah ditunda kelak, tetap terjadi situasi calon tunggal lagi?

Kita mesti yakin bahwa sesungguhnya Indonesia, termasuk tujuh daerah itu, tak kekurangan orang-orang berprestasi dan berintegritas tinggi untuk menduduki jabatan kepala daerah. Di Kota Surabaya misalnya, pasti ada orang-orang yang cemerlang untuk memimpin daerah tersebut. Tapi harus juga diakui kalau pengaruh Tri Rismaharini begitu kuat di Surabaya.

Tidak terbayang bagaimana jika jadinya ketujuh daerah itu terpaksa jalan di tempat selama dua tahun karena tak ada penanding sang calon tunggal. Belum lagi kalau ada kemungkinan kita akan berhadapan dengan persoalan serupa dua tahun lagi, di daerah-daerah lain. 

Pesan yang muncul dari situasi ini adalah alarm bagi daerah mana pun untuk mengkader lebih banyak anak muda untuk mau berjuang demi Indonesia di jalur politik. Risma hadir di Surabaya dengan rekam jejak yang panjang dan tegas. Kita mesti yakin ada banyak Risma lain di Surabaya dan mesti bisa juga mendorong mereka untuk tampil ke atas panggung politik. Kita butuh calon yang muda dan cemerlang, yang bebas sogokan, untuk memajukan Indonesia.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!