Sapi. (Danny/KBR)

Sapi. (Danny/KBR)

Puluhan ribu pedagang bakso di Jakarta dan sekitarnya gundah. Harga daging sapi yang menjadi bahan utama bakso sedang tidak bersahabat. Angkanya kini menembus Rp 100 ribu per kilo. Bagi Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso Indonesia, kondisi yang sudah berlangsu beberapa hari ini sudah tidak masuk akal. Tidak ada lagi harga daging Rp80 ribu perkilo seperti biasa.

Pemerintah sebetulnya sudah menegaskan persediaan sapi dalam negeri mencukupi untuk kebutuhan tiga bulan, paling tidak hingga hari raya Qurban September mendatang. Tapi di lapangan justru bicara lain.

Gundah juga dialami para pedagang daging, dan tentu, konsumen. Mereka kekurangan stok daging hingga harga melambung. Pedagang merugi karena pembeli berkurang. Di beberapa daerah harga daging kualitas super bahkan mencapai Rp150 ribu perkilo. Ini kenaikan paling ajaib. Ada yang menyebut ini kenaikan tertinggi selama 30 tahun terakhir.

Kecurigaan pun mengarah pada mafia sapi yang selama ini mengeruk keuntungan besar dari minimnya stok dan tingginya kebutuhan. Genderang perang melawan mafia daging sapi sudah ditabuh sejak 2013 lalu ketika KPK menyikat petinggi Partai Keadilan Sejahtera PKS Luthfi Hasan Ishak dan broker impor sapi Ahmad Fathanah. Maka kini naiknya harga daging saat ini diduga bentuk perlawanan dari mafia sapi setelah pemerintah mengurangi kuota impor dari 270 ribu ekor menjadi hanya 50 ribu ekor pada kwartal III tahun ini. Hitung-hitungan kasar, mereka kehilangan omzet lebih dari Rp2 triliun.

Pemerintah harus bergerak cepat melakukan intervensi. Tidak cukup  hanya lewat operasi pasar, atau menjual daging di bawah harga pasar. Tapi juga menetapkan harga eceran tertinggi daging sapi, khususnya menjelang Hari Raya Qurban. Tidak boleh komoditas ini diserahkan begitu saja ke harga pasar.  


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!