Spanduk Muktamar NU Ke-33. (Sindu/KBR)

Spanduk Muktamar NU Ke-33. (Sindu/KBR)

Saat ini, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia sedang melangsungkan Muktamar mereka. Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur sementara Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan. Ini jadi peristiwa penting mengingat Indonesia meski bukan negara Islam, tapi adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.

Ada banyak harapan yang disandarkan pada hasil muktamar NU dan Muhammadiyah. Yang utama tentu menjaga perdamaian dan kekayaan Islam di tanah air. Islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia tentu berbeda dengan Islam yang tumbuh dan berkembang di negara lain. Perpaduan dengan budaya lokal membuat Islam di tanah air begitu unik dan itu adalah kekayaan bangsa kita.

Selain menjaga perdamaian dan keragaman, NU dan Muhammadiyah diharapkan juga mampu berperan dalam menangkal terorisme dan radikalisme. Di tanah air, peristiwa bom bunuh diri atau sejenisnya belakangan tidak banyak terjadi. Dan itu mesti kita syukuri serta jaga supaya situasi tetap damai. Tak ada peristiwa teror, bukan berarti bibit dan akar terorisme sudah hilang dari tanah air. Dalam wawancara eksklusif dengan KBR, Ali Imron, pelaku pengeboman tragedi Bom Bali mengatakan kalau ia masih sering diajak untuk terlibat aksi pengeboman, meski ia sendiri ada di dalam penjara. Menurut Ali Imron, ide untuk melakukan aksi teror dengan dampak sebesar Bom Bali masih berkembang di sekelompok orang. Dan sudah jelas, ini berbahaya.

Belum lagi soal ISIS yang entah mengapa bisa dianggap begitu menarik bagi sekelompok orang. Meski gambaran kekejaman begitu jelas dari ISIS, meski tak ada satu agama pun yang mengajarkan jalan kekerasan, toh gagasan ISIS masih laku sampai sekarang. Orang-orang Indonesia ada yang sudah bergabung atau sedang dalam proses bergabung.

Ini mengerikan – ketika agama diterapkan dengan cara-cara kekerasan. Agama mestinya jadi sarana bagi seseorang untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Tapi sekarang, gagasan agama justru diputarbalikkan dan dijadikan alasan pembenar untuk melakukan aksi kekerasan.

Di sinilah kita mesti sama-sama mengawal pelaksanaan Muktamar NU dan Muhammadiyah. Kita ingin kedua lembaga ini bisa sama-sama menjaga Indonesia yang damai dan beragam. NU dan Muhammadiyah juga bisa lebih banyak bersuara soal korupsi misalnya – karena makin banyak pejabat yang korupsi dan kebetulan mereka beragama Islam. Kita ingin NU dan Muhammadiyah yang bergandengan tangan, merangkul semua dan ikut menjaga Pancasila. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!