Refleksi Tragedi Dieng

Tak semua pengelola wisata sadar potensi bencana. Banyak yang sekadar menjual keelokan alam, tanpa mempertimbangkan ancaman yang mengintai.

Senin, 03 Jul 2017 05:07 WIB

Menikmati sunrise di  Dataran Tinggi Dieng

Ilustrasi: Menikmati sunrise di Dataran Tinggi Dieng (foto: Danang DKW)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Di penghujung libur Lebaran, Kawah Sileri di Dataran Tinggi Dieng,Jawa Tengah mengeluarkan letusan gas setinggi 50 meter. Akibatnya,belasan wisatawan yang berada di sekitar kawah terluka. Korban juga jatuh dari pihak Badan SAR Nasional, yang helikopternya jatuh menabrak tebing ketika hendak memantau letupan di kawah tersebut. Tak ada yang mengira Kawah Sileri bakal mengeluarkan gas. Sebab tak ada aktivitas vulkanik yang mencurigakan sebelumnya. Saat ini wisatawan dan warga langsung diminta meninggalkan lokasi karena berpotensi ada letupan susulan, yaitu gas beracun.

Letusan terakhir di Dieng terjadi puluhan tahun silam, yaitu 1974. Letupan di Kawah Sinila itu mengakibatkan ratusan orang meninggal. Potensi bencana ini bukannya tak diketahui. Sejak 2011, Badan Nasional Penanggulangan Bencana sudah mengingatkan soal ancaman gas beracun yang diklaim bisa mengakibatkan bencana yang lebih  besar ketimbang letusan Merapi.

Alam menyimpan berbagai misteri, termasuk potensi bencana. Meski begitu, tak semua pengelola wisata sadar. Banyak yang sekadar menjual keelokan alam, tanpa mempertimbangkan ancaman yang mengintai. Obyek wisata terus dibangun, tanpa menghitung daya tahan alam. Kadang juga tanpa menghitung keselamatan wisatawan. Apakah ada asuransi bagi wisatawan? Apakah ada informasi soal langkah darurat jika terjadi bencana di lokasi wisata? Hal-hal seperti ini banyak yang belum jadi perhatian.

Libur Lebaran dan apa yang terjadi di Dieng ini hendaknya jadi refleksi bersama. Indonesia punya potensi wisata alam yang melimpah-ruah, menanti untuk dinikmati semua orang. Tapi semua itu harus dihitung cermat dari berbagai aspek. Jangan sampai kita hanya menjual alam, tanpa menghitung keselamatan manusia dan keberlangsungan alam. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.