Banser demo tolak radikalisme, terorisme dan khilafah.  (KBR/Musyafa)

Banser demo tolak radikalisme, terorisme dan khilafah. (KBR/Musyafa)

Seratusan aktivis dari sejumlah lembaga di Rembang, Jawa Tengah berunjukrasa menolak radikalisme dan terorisme. Para pengunjukrasa juga mengecam tindakan sejumlah kalangan yang secara tidak langsung mendukung pelaku teror dengan memperlakukannya bak pahlawan. 

Massa yang berasal dari Gerakan Pemuda Anshor, Banser Nahdlatul ulama (NU) dan sejumlah organisasi masyarakat itu juga menolak khilafah. Kata Komandan Banser Rembang, mereka akan melawan setiap upaya mendirikan negara khilafah. Ini bukan kali pertama aksi Banser Rembang menolak radikalisme dan khilafah. April lalu mereka juga menggelar aksi serupa dan meminta masyarakat agar tidak terpengaruh propaganda kelompok radikal dan sejenisnya.

Kekuatiran Banser Rembang ini beralasan. Bahkan di saat bulan ramadan, saat ibadah puasa kelompok radikal ini tak segan melancarkan aksinya. Seperti bom bunuh diri di Markas Kepolisian Solo, Jawa Tengah yang terjadi sehari sebelum hari raya Idul Fitri. 

Kepala Kepolisian Indonesia Badrodin Haiti menyebut aksi bom Solo terkait dengan propaganda Khilafah Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Dalam bahasa Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, ISIS mengubah strateginya lantaran belakangan kerap kalah dalam pertempuran. 

Menurut BIN  aksi penyerangan ISIS tak lagi difokuskan di Suriah dan Irak, tapi diperluas ke negara-negara yang dianggap musuhnya. Sutiyoso mencontohkan aksi teror di Perancis, Turki, Saudi Arabia, juga di Indonesia, sebagai bukti. Pelakunya adalah orang yang langsung dikirim ISIS atau simpatisan yang termakan propaganda dan  tinggal di negara-negara itu.

Sinyalemen Banser Rembang dan juga aparat mesti dipandang sebagai pengingat. Untuk tetap waspada dari aksi teror yang bisa muncul kapan saja dan di mana saja. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!